Presiden Joko Widodo (tengah)), Perdana Menteri Malaysia Najib Tun Abdul Razak (ketujuh kiri), Presiden Tajikistan Emomali Rahmon (ketujuh kanan), Presiden Republik Guinea Alpha CondŽ (keenam kiri), Perdana Menteri Sri Lanka Ranil Shriyan Wickremesinghe (keenam kanan), Wakil Perdana Menteri urusan ekonomi Jordania Jawad Al Anani (kelima kiri) dan sejumlah utusan para kepala negara berfoto bersama saat pertemuan World Islamic Economic Forum (WIEF) Ke-12 di Jakarta Convention Center, Jakarta, Selasa (2/8). KEMENKEU-WIEF/Prasetyo Utomo/16.

Tiga Poin Penting dari WIEF ke-12

Poin utama WIEF mencakup peluang bisnis, mekanisme pembiayaan infrastruktur dan kolaborasi bisnis.

World Islamic Economic Forum (WIEF) ke-12 yang digelar di Jakarta Convention Center telah berakhir hari ini, Kamis (4/8). Forum tersebut telah menarik minat 4000 peserta dari 73 negara, dengan 63 persen berasal dari Indonesia, 24 persen dari Malaysia dan 13 persen lainnya dari berbagai negara di seluruh dunia.

Menteri Keuangan RI Sri Mulyani Indrawati memaparkan tiga kesimpulan dari pelaksanaan WIEF ke-12. Pertama adalah mengatasi kurangnya pengetahuan tentang produk keuangan Islam, serta kurangnya kemampuan perusahaan keuangan dalam melihat prospek jangka panjang yang ditawarkan oleh bisnis halal terkait.

“Kita banyak berbicara soal produk keuangan syariah tapi untuk masyarakat memahami produknya masih butuh waktu lama. Kurangnya kemampuan perusahaan untuk melihat prospek jangka panjang industri halal juga merupakan poin yang harus ditekankan untuk melihat sumber pembiayaan yang punya prospek bisnis,” katanya dalam Penutupan WIEF ke-12, Kamis (4/8).

Kedua, menguatkan mekanisme pembiayaan infrastruktur jangka panjang termasuk asset-backed securities. “Mengembangkan regulasi dan insentif untuk pembiayaan infrastruktur jangka panjang sangat penting untuk mengisi kesenjangan antara permintaan dan suplai pembiayaan syariah untuk infrastruktur,” ujar Sri.

Menurutnya, kebutuhan pembangunan infrastruktur yang besar tidak hanya dihadapi oleh negara mayoritas muslim, tetapi juga seluruh negara di dunia. Kebutuhan pembiayaan infrastruktur bisa mencapai 3 triliun dolar AS per tahun. Namun, ada bottleneck pembiayaan infrastruktur di sini.

“Keuangan syariah bisa memanfaatkan peluang ini untuk pembiayaan jangka panjang. Asset-backed securities untuk membiayai proyek infrastruktur sangatlah penting. Kini waktunya produk keuangan syariah untuk berpartisipasi membiayai proyek infrastruktur,” cetusnya.

Kesimpulan ketiga yang diambil dari WIEF ke-12 adalah membangun kolaborasi yang lebih baik antara perusahaan akar rumput dan industri mainstream, yang bisa mendorong inovasi dan memberi nilai tambah terutama bagi industri kuliner halal dan busana muslim. “Dari perkotaan sampai pedesaan, permintaan busana masyarakat Indonesia sangat spesifik dan makanan halal juga akan menjadi bisnis yang besar. Dengan mendorong inovasi dan menghubungkan UMKM dengan banyak industri, maka akan menciptakan tidak hanya peluang bisnis tapi juga model ekonomi inklusif,” papar Menkeu.

Kebutuhan pembiayaan infrastruktur global mencapai USD 3 T per tahun Click To Tweet

More Stories
Mandiri Syariah Dukung Pertamina Trans Kontinental Pembiayaan Investasi Pengadaan Kapal