Tiga Strategi Program Pembangunan Ekonomi Nasional

Untuk mendorong konstribusi sistem keuangan syariah, dibutuhkan strategi program pembangunan nasional yaitu sistem kerakyatan, komparatif dan hijau.

bank-syariahDi masyarakat Indonesia perkembangan ekonomi syariah sangat baik. Perkembangan ini jika dikaitkan dengan pertumbuhan ekonomi nasional memang belum menyumbangkan kontribusi besar. Pertumbuhan industri keuangan syariah di Indonesia beberapa waktu terakhir lambat karena pertumbuhan ekonomi Indonesia pada umumnya juga melambat. Hal ini merupakan imbas dari perlambatan yang terjadi di ekonomi dunia.

Sehingga industri keuangan atau perbankan syariah kini harus semakin inovatif dalam produk. Selain itu sumber daya manusia dan kekayaan alam didalamnya harus terus ditingkatkan kapasitas dan kompetensinya. Faktor berikutnya dalam menjalankan strategi jangan hanya berfokus pada mereka yang memiliki dana besar.

Profesor Emeritus Teknologi Industri Pertanian IPB, Prof. Dr. Eriyatno, menyatakan, sistem keuangan syariah kontribusinya masih sangat kecil dan berkembang sangat perlahan di wahana finansial nasional. ini disebabkan oleh dua hal yaitu strategi pembangunan ekonomi nasional dan akibat Islamisasi praktek funansial kontemporer.

Lebih lanjut Eriyatno menegaskan, wakil presiden Budiono pada acara MB-IPB, 13 September 2014 lalu, menyatakan bahwa kebijakan yang berfokus pada upaya untuk meningkatkan PDB atau pertumbuhan ekonomi semata adalah salah. Sebab kebijakan yang salah inilah, kata Efriyanto, maka kontribusi sistem keuangan syariah jalan ditempat.

Lalu bagaimana menjadikan benar-benar ada?Eriyatno menjelaskan ada tiga strategi yang patut mendasari program pembangunan ekonomi nasional kedepan, yaitu.

  • Pertama, Ekonomi Kerakyatan.

Sistem ekonomi kerakyatan ini di kemukakan oleh Bernhard Limbong, pada 2013.Gagasan ekonomi kerakyatan dikembangkan sebagai upaya alternatif dari para ahli ekonomi Indonesia untuk menjawab kegagalan yang dialami oleh negara berkembang, termasuk Indonesia, dalam penerapan teori pertumbuhan. Namun kenyataannya, teori yang telah membawa kesuksesan di negara-negara kawasan Eropa, ternyata telah menimbulkan kenyataan lain di sejumlah bangsa yang berbeda.

Menurut Eriyatno, dalam konsep Ekonomi Kerakyatan, pembangunan berorientasi kerakyatan dan berbagai kebijakan berpihak pada kepentingan rakyat. Dengan kata lain, konsep ekonomi kerakyatan dilakukan sebagai sebuah strategi untuk membangun kesejahteraan dengan lebih mengutamakan pemberdayaan masyarakat. “Hal ini sejalan dengan bunyi pasal 27 UUD 1945 yang menyatakan tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan,” kata Eriyanto dalam Forum Riset Keuangan Syariah 2014, di IPB, Selasa (14/10).

  •  Kedua, Ekonomi Hijau.

Sistem ekonomi ini sukses dikembangkan oleh wartawan senior Teguh Setiawan pada 2012. Eriyanto menegaskan, sistem ekonomi hijau ini mengedepankan kembali sumber daya alam (ekologis) dan pertanian (agribisnis) sebagai basis, serta aktivitas yang ramah lingkungan. Berbagai kebutuhan hidup diproduksi dengan bahan-bahan yang dihasilkan dari pertanian. Plastik dibuat dari rumput laut, listrik dari biomassa, bahan bakar dari sawit, pewarna makanan dari ekstrak tanaman, pupuk organik dan biofarmaka.

Menurutnya, bagi Indonesia dengan keanekaragaman hayati yang berlimpah, gelombang ekonomi dapat memberi keuntungan. Syaratnya, teknologi dan pengelolaannya harus dikuasi hingga dihasilkan aneka produk turunan yang dinilai dan bernilai tinggi. Indonesia harus mandiri dalam produksi, tetapi berjaringan dalam bisnis.

“Adalah menjadi kewajiban bagi intelektual muslim untuk memandu dan memadukan ke universalan iptek yang baik dengan referensi ideal, metodologi dan epistomologis holistik yakni Al-quran,” tegasnya.

  •  Ketiga, Sistem Ekonomi Komparatif

Sistem ekonomi ini dikemukakan oleh Eriyatno sendiri. Menurutnya, sistem ekonomi komparatif ini tatanan perekonomian yang berbasis lokal, berorientasi pada masyarakat, mengabdi untuk membangun kehidupan yang lebih baik bagi semua, dan tidak hanya meningkatkan keuntungan. Dengan dijiwai semangat patriotik, dinamika sistem tersebut membutuhkan keberanian dan perubahan yang kreatif dari cara mengukur keberhasilan pembangunan ekonomi serta dalam mengatur sektor finansial.

Lebih lanjut Efriyanto menegaskan dari ketiga landaan konseptual : Kerakyatan, Komparatif dan Hijau,maka hendaknya kedepan strategi Pembangunan Nasional di tata ulang. Sehingga tolak ukur keberhasilannya tidak lagi angka pertumbuhan namun diganti parameter yang lebih komprehensif seperti Social Progress Index (Kotler, 2013). “Tanpa ada perubahan haluan strategis tersebut apapun upaya mendorong kontribusi sistem keuangan syariah pasti sia-sia,” tandasnya.

 

More Stories
BNI Syariah Targetkan Penjualan Sukuk Ritel SR013 Sebesar Rp75 miliar