Arfahyuri, isteri korban tragedi mei 2019

Tragedi Mei 2019:  Suaminya Ditahan, Anak Tidak Sekolah, Diusir dari Kontrakan

Salah satu keluarga korban tragedi Mei 2019 mendatangi Komnas HAM, mencari keadilan.

Arfahyuri Arief suami dari Zulkarnaen, seorang relawan tim medis dari kubu pasangan calon 02, Pemilu 2019 menangis di ruang laporan Komisi Nasional Hak Azasi Manusia (Komnas HAM). Yuri mengisahkan, suaminya adalah salah satu korban tragedy 21-22 Mei 2019. Kerusuhan di Jakarta yang memakan korban nyawa melayang dan ratusan korban luka.

Ia datang bersama Gerakan Kedaulatan Rakyat untuk Keadilan dan Kemanusiaan (GERAK Kemanusiaan) pada Jumat, 28 Juni 2019 ke kantor Komnas HAM di Jakarta Pusat.

Yuri mengisahkan, suaminya berangkat bersama teman-temannya sesame relawan medis 02 ke rumah aspirasi di kawasan Cut Meutia, Jakarta Pusat. Dari sana, suaminya bergabung dalam aksi yang dilakukan di Bawaslu, kawasan Thamrin, Jakarta Pusat.

“Saya di rumah memang gelisah. Dan benar, saya kehilangan suami selama 12 hari. Dari tanggal 21 lost contact. 12 hari saya cari ke sana kemari”, kata Yuri. Dari teman-teman suaminya didapat info sang suami memang ikut ke Bawaslu namun setelah itu menghilang. Dari teman-teman sang suami juga Yuri diperlihatkan foto suaminya dalam keadaan luka parah. Seperti habis dianiaya. “Suami saya dianiaya habis-habisa, Saya tidak tidak terima suami saya diperlakukan seperti ini”, kata Yuri sambil menangis.

Setelah itu, Yuri juga mendapat kabar bahwa suaminya berada di Rumah Sakit Polri Soekamto, Kramat Jati, Jakarta Timur. Ia segera beranjak ke sana dan menemukan suaminya telah dibawa ke Polres Jakarta Barat, ditahan katanya. “Ternyata sudah dibawa lagi langsung dimasukin ke penjara”, kata Yuri.

Ia mencoba bertanya ke petugas yang berada di sana, tentang tuduhan dan kemungkinan pembebasan suaminya. Menurut Yuri tidak pernah ada jawban yang pasti, yang ada ia dipingpong sana sini.

Akibat tiadanya suami, sang pencari nafkah keluarga Yuri, keluarganya mulai kesulitan. “Anak-anak saya jadi korban, anak saya yang besar tidak masuk sekolah, harusnya sudah mendaftar SMU, bagaimana nasib saya dan anak-anak saya, juga suami saya?” kata Yuri bertanya kepada Komnas HAM.

Ia juga mengaku diusir dari kontrakan. Ya, keluarga Zulkarnaen mengontrak bulanan. Karena suaminya ditahan, tiada uang di tangan, iapun mengaku diusir oleh induk semang.

Mirisnya, “Saya malah dicomooh karena di sana banyak 01, dan saya dikira hoax, mereka tidak percaya, saya tunjukkan fotonya, disamain sama Andri siapa itu namanya”, kata Yuri mengisahkan.

Pada Jumat (28/7) lalu, GERAK Kemanusiaan mendatangi kantor Komnas HAM. Di antara tokoh yang hadir adalah Marwan Batubara (aktivis senior), Plt Ketua GNPF U, Eddy Mulyadi, dan Sekjen GERAK Kemanusiaan, Asep Syaripuddin.

More Stories
CIMB Niaga Syariah Fasilitasi Penghimpunan Wakaf Digital