Video  49 TKA China adalah Fakta dan Bukan untuk untuk Meresahkan  

Penyebaran video kedatangan 49 TKA China yang dilakukan Hardiono adalah spontanitas mengabarkan fakta untuk kepentingan umum. Hal ini mengacu pada Pasal 310 Ayat 3 KUHP.

Bahwa apa yang dilakukan Hardiono, yaitu secara spontan melakukan rekaman videonya adalah menceritakan kejadian yang ia lihat, alami dan itu merupakan fakta. “Tindakan tersebut secara terang benderang bukanlah ditujukan dengan maksud pencemaran kepada pihak lainnya, juga tidak dimaksudkan untuk meresahkan publik, karena niat dan perbuatannya adalah untuk memberikan informasi demi kebaikan dan kepentingan umum.” Kata Advokat Djudju Purwantoro, Sekjen Ikatan Advokat Muslim Indonesia (IKAMI) kepada MySharing, Rabu (18/3).

Ditambahkan Djudju, tindakan Hardiono tersebut tersebut, jika mengacu pada Pasal 310 Ayat 3 KUHP yang berbunyi ”Tidak merupakan pencemaran atau pencemaran tertulis jika perbuatan jelas dilakukan demi kepentingan umum”.

Seandainya perbuatan tersebut juga dikaitkan dengan berita yang sudah beredar (distribusikan) dan/atau transmisikan sehingga dapat diaksesnya informasi elektronik melalui medsos, maka jika mengacu pasal 27 UU ITE No.19/2016. “Tentunya tidak dimaksudkan atau memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik, atau melanggar kesusilaan”, kata mantan pengacara Kivlan Zein ini.

Menurut Djudju, dalam praktiknya, memang pasal tentang pencemaran  nama baik yang disangkakan melalui media elektronik/media sosial, seringkali disebut ‘pasal karet:’, karena juga merupakan delik aduan. “Penerapannya banyak menelan korban, dan tergantung juga bagaimana subyektifitas pihak penyidik menafsirkan dan menegakkan norma tersebut. Sebagai contoh kasus tersebut, bagaimana reaktifnya pihak Polda Sultra, dengan cepat merespon dan memproses, walaupun akhirnya juga dibatalkan (revisi) kembali”, kata mantan pengacara Jonru ini menegaskan.

Pasal pencemaran nama baik sering disebut juta pasal karet Click To Tweet

Heboh TKA China
Memang, di tengah wabah Covid 19 yang mengkhawatirkan, Indonesia dikagetkan dengan kedatangan  tenaga kerja asing (TKA) asal China sebanyak 49 orang di Sulawesi Tenggara (Sultra), Minggu 15 Maret 2020. Peristiwa tersebut menjadi heboh, karena sempat direkam melalui video dan ditayangkan melalui medsos, oleh seseorang bernama Hardiono (39), warga Desa Onewila, Kecamatan Ranomeeto, Kabupaten Konawe Selatan (Konsel).

Heboh, bukan hanya karena TKA-nya berasal dari China, negara asal Covid 19, juga karena sulit dipungkiri, isi serbuan TKA China terus mengemuka sejak era pemerintahan Joko Widodo periode pertama.

Atas perbuatannya itu, Hardiono dituduh menyebarkan hoaks dan ditangkap Polda Sultra pada 16 Maret 2020.

Kapolda Sultra Brigjen Merdisyam membenarkan terkait kedatangan WNA tersebut. Merdisyam menyebut mereka merupakan tenaga kerja asing dari perusahaan tambang.

Sebagaimana dilansir media online Detik, Merdisyam mengatakan para WNA itu dari Jakarta dalam rangka memperpanjang visa.

Namun, kedatangan TKA China ini, dikonfirmasi oleh Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Hukum dan HAM Sultra Sofyan. Pada Senin (16/3) mengungkapkan, sebanyak 49 TKA berhasil mendarat di Bandara Haluoleo Kendari pada Minggu (15/3) sekira pukul 20.00 WITA.

Sofyan menyebut 49 TKA itu merupakan pekerja baru di PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI). Hal ini pun membantah klaim Kapolda Sultra Brigjen Pol Merdisyam bahwa TKA itu hanya mengurus perpanjangan visa di Jakarta.

Masuk Indonesia, kata Sofyan, mereka menggunakan visa kunjungan dan akan bekerja di pabrik smelter PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI) Morosi Kabupaten Konawe.

Tak kurang, Ketua MPR Bambang Soesatyo mendesak pemerintah agar bersikap tegas dan memberikan perlakukan yang sama terhadap Warga Negara China tersebut.

Sebelumnya, Gubernur Sultra, Ali Mazi juga menghargai apa yang dilakukan Hardino karena memicu kewaspadaaan pihaknya. Gubernur meminta Hardiono untuk tidak lagi ditahan.

Kemudian diketahui, Hardio dibebaskan pada hari Senin itu juga. Polisi menjelaskan bahwa Hardino hanya dimintai keterangan terkait video viralnya itu. Salah satu alasan penangkapan Hadiono adalah ucapannya di video itu yang menyebut kata “corona” beberapa kali. Ini dianggap akan meresahkan masyarakat.

More Stories
Siapa Yang Tahan, Dialah Yang Hidup