Mitos Sinterklas, produk akulturasi antara paganisme, kristen, dan budaya massa. Inilah salah satu kesuksesan Barat mematri imaji di alam pikiran kita.

Yang populer adalah, mitos Sinterklas terinspirasi dari Santo Nikolas, pendeta baik hati di abad ke-4 dari kawasan Myra (Turki Selatan). Benar, namun kalau mau ditelusuri lebih jauh, ada akar pagan dalam mitos Sinterklas. Mitos? Ya atau mungkin bisa disebut konsep, karena ibarat burung Garuda, Sinterklas tidaklah nyata, ia hidup di alam pikiran manusia modern, diukir oleh pisau-pisau budaya populer.
Odin
Legenda bangsa Norse mengenal kisah Odin, salah satu dari dewa mereka. Odin merepresentasikan maskulinitas bangsa Norse, gagah perkasa dan memiliki cara berpesta yang unik, yaitu berburu. Dari PaganPath, Legenda Odin diketahui melalui Puisi-puisi Edda yang mengisahkan sejarah Skandinavia. Puncak pesta berburu dilakukan pada awal musim dingin, biasanya di pemula Desember. Bangsa Nordik percaya pada paruh pertama bulan Desember, biasanya mulai 6 Desember, dewa Odin mulai berburu. Untuk menghormatinya, diadakanlah perayaan Yule selama seminggu. Anak-anak disuruh menaruh sepatunya, diisi oleh wortel, jerami atau gula, di dekat cerobong asap untuk dimakan oleh Sleipnir, kuda terbang berkaki delapan yang ditunggangi Odin. Sebagai imbalan atas kebaikan hati anak-anak itu, Odin dikatakan akan memberi hadiah dengan mengganti makanan Sleipnir dengan mainan, permen, atau barang lainnya.
Praktik ini terus dilakukan bahkan ketika kristen masuk di negara-negara rumpun Nordik seperti Jerman, Belgia, Norwegia, Skandnavia, dan Belanda. Perlu diketahui, Norse sejatinya sama dengan Nordik. Penyebutan Nordik merujuk pada era yang lebih modern, utamanya ketika memasuki masa kekristenan, sedangkan Norse lebih kuno, umumnya ketika penduduk kawasan ini masih menganut paganisme.
Odin menunggang kuda terbang berkaki delapan bernama Sleipnir, berkelana di malam hari di musim dingin untuk berburu. Sinterklas menunggang kereta salju terbang dengan delapan rusa kutub (reindeer). Odin digambarkan berjanggut putih panjang, pun dengan Sinterklas.
Frau Holda
Legenda Norse, khususnya di Jerman juga mengenal Frau Holda, salah satu dewi masa pagan, cantik pirang dan bertugas melindungi jiwa anak-anak. Sama seperti Odin, Frau Holda juga terbang pada malam di musim dingin untuk memberi hadiah kepada anak-anak baik. Secara fisik Frau Holda digambarkan berbaju merah dan menggunakan cerobong asap untuk masuk ke dalam rumah penduduk. Di beberapa tradisi kuno Jerman, penduduk akan menyiapkan makanan dan susu sebelum tidur untuk disantap oleh Frau Holda pada tanggal 24 Desember malam. Malam itu juga dikenal sebagai Malam Ibu.
Le Befana
Masih di Eropa tetapi bukan rumpun Nordik, di Italia juga ada legenda pagan tentang Le Befana. Dari Wikipedia, wanita berjubah panjang ini dikisahkan terbang di malam hari menggunakan gagang sapu. Agak mirip dengan imaji nenek sihir memang, ya memang inilah muasal legenda nenek sihir. Legenda Italia memercayai Le Befana mendapat tugas memberikan hadiah kepada Nabi Isa saat Isa bin Maryam lahir. Mirip seperti kisah tiga orang Majusi yang mencari bayi Isa untuk diberkati. Tetapi karena kelalaiannya, Le Befana datang terlambat. Karenanya, Le Befana mendapat hukuman tiap tahun sebelum kelahiran Isa, ia harus memberikan hadiah sebanyak mungkin kepada anak-anak kecil yang baik dan tidak mampu. Legenda lain di Italia menyebutkan kisah berbeda, Le Befana dipercaya baik hati. Ia masuk ke rumah penduduk melalui cerobong asap dan menawarkan permen dan hadiah kepada anak-anak. Jika anak itu berlaku baik, akan diberikan, jika tidak, Le Befana hanya akan memberikan jelaga batubara.
Santo Nikolas
Namun, umat Kristen sendiri enggan mengaitkan mitos Sinterklas dengan paganisme. Dari Wikipedia, Sinterklas umumnya lebih dikaitkan dengan Santo Nikolas, uskup Katolik di wilayah bernama Myra di Lycia pada abad ke-3 dan 4 M. Santo Nikolas dilegendakan sebagai orang suci pelindung anak-anak. Santo Nikolas berperawakan gemuk pendek dengan janggut putih panjang. Baca juga: Sinterklas Bukan Orang Suci
Kisah Santo Nikolas ini sangat populer di rumpun Nordik, terutama Belanda. Oleh orang Belanda, Santo Nikolas disebut “De Goede Sint” atau “Sinter Klaas”. Nah, dari sinilah nama Sinterklas populer. Apalagi setelah dibawa ke Amerika Utara pada abad ke-17 oleh para imigran Belanda di New Amsterdam, kemudian nama New Amsterdam berubah menjadi New York. Mitos Sinterklas diperkenalkan melalui budaya populer melalui tulisan lewat buku The History of of New York (1809), Sinter Klass disebut St. A. Claus oleh Washington Irvin penulis buku itu. Lalu di-Amerikanisasi melalui karya sastra populer, A Visit From Saint Nicholas atau lebih dikenal dengan The Night Before Christmas (1823) oleh Clement Clarke Moore, dan Christmas Carol karya Charles Dickens (1867).
Sejak abad ke-17 hingga kini mitos Sinterklas mengalami evolusi kisah dan tampilan dan budaya populer Barat. Namun inti mitologinya sama, terbang di malam natal untuk memberikan hadiah kepada anak-anak. Dari buku, film, hingga musik dan hampir seluruhnya komersial.


