Penyaluran Kredit KPR Melambat

[sc name="adsensepostbottom"]

Ketatnya peraturan uang muka atau Loan to Value (LTV) menyebabkan penyaluran kredit pemilikan rumah (KPR)  BNI melambat.

kpr-btnDirektur Konsumer BNI, Anggoro Eko Cahyo, mengatakan, BNI hanya mencetak perumbuhan KPR sebesar Rp 33,09 triliun pada kuartal I-2015. Artinya, dalam periode Januari-Maret, BNI hanya membukukan kenaikan penyaluran KPR sebesar 2,96 persen ketimbang periode yang sama di tahun 2014. Namun, jika dibandingkan dengan penyaluran KPR di kuartal IV-2014, maka nilai KPR turun 0,74 persen.

”KPR BNI hanya tumbuh 3 persen atau dibawah rata-rata pertumbuhan pasar sebesar 12 persen, yakni hanya mencetak pertumbuhan KPR sebesar Rp 33,09 triliun pada kuartal I-2015. Rendahnya KPR BNI ini imbas dari pengetatan uang muka atau LTV,” kata Anggoro, saat paparan kinerja di Jakarta, pekan lalu. Baca: BNI akan Jaga NIM di Kisaran 6 Persen

Menurutnya, BNI paling terkena dampak aturan besar LTV dan rumah inden untuk KPR pertama dan selanjutnya. Apalagi, segmen nasabah KPR BNI adalah masyarakat di Jakarta yang sebagian besar membeli rumah untuk rumah kedua yang tidak boleh inden. ”Jika aturan LTV dilonggarkan, maka penyaluran KPR akan bergairah kembali,” tukasnya.

Ia menegaskan, BNI membidik pertumbuhan KPR sebesar 10 persen pada tahun ini dengan perkiraan pemberian kredit baru untuk perumahan sebesar Rp 33,34 miliar atau dengan outstanding kredit KPR sekitar Rp 36, 67 triliun pada akhir tahun 2015. Baca: BNI Cetak Laba Bersih Rp 2, 82 Triliun

Berdasarkan statistik Perbankan Indonesia (SPI), kredit untuk pemilikan rumah tinggal tumbuh 12,49 persen menjadi Rp 303, 48 triliun per Februari 2015, dibandingkan posisi Rp 269,77 triliun per Februari 2014. Sedangkan, rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) sebesar 2,56 persen per Februari 2015, atau naik 50 bps (basis point) dibandingkan posisi 2,50 persen per Februari 2014.