Indonesia sangat kaya akan budaya, nilai nilai filosofi, spiritual maupun kearifan lokal. Dengan derasnya arus informasi dari berbagai sumber dan media yang mulai memaksa menerapkan pola pikir, sudut pandang bahkan budayanya dengan dalih ‘kebenaran’.

“Pengalaman dan pengetahuan bermusik ditambah pemahaman akan bunyi, frekuensi dan vibrasi mendorong pada kesadaran baru untuk membantu orang lain dalam pencarian kesempurnaan spiritualisme, yang tujuannya hanya satu, yaitu mendekatkan diri pada Sang Maha Pencipta. Penampilan yang kami tampilkan adalah sebuah pertunjukan musik yang tidak hanya sekedar menghibur namun juga membangkitkan kesadaran dan membutuhkan kecerdasan spiritual, intelektual serta kecerdasan kosmik saat mencernanya. Ini adalah musik perpaduan etnik dan techno,“ ujar Diddi Agephe saat pertunjukkan.
Jenis Musik Prabbu Shatmata adalah Etno Techno Music (Electronic Music mix with World music). Diddi Agephe adalah pelopor dan icon dari music ‘Etno Techno’ di Indonesia. Pertunjukan yang berlangsung pada pukul 15.00 WIB ini menampilkan lagu-lagu diantaranya seperti Cahaya Nusantara, Dolanan, Prabu Shatmata, Sunday Morning in Trowulan, dan Love Indonesia.
Hadir sebagai narasumber yaitu Panggih Widadhi, dan Dodie Magis yang mengangkat sisi spiritualitas manusia, serta Sujiwo Tejo yang turut mengisi sesi talkshow dan ikut tampil bersama Prabbu Shatmata.
Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation – Renitasari Adrian mengapresiasi dengan sangat positif pertunjukkan Diddi Agephe dan komunitas Prabbu Shatmata ini.
“Musik adalah cara universal yang dapat digunakan untuk melakukan pendekatan batin terhadap setiap orang. Hal inilah yang dilihat Diddi Agephe seorang seniman multitalenta yang mengembangkan sisi spiritual seseorang melalui musik. Perpaduan antara musik budaya Jawa dan musik dunia menciptakan nuansa baru yang membuat para penonton merasakan hal baru dan ikut terhanyut dalam alunan musik yang dibawakan,” ujar Renitasari Adrian.
Diddi Agephe sendiri mengenyam pendidikan musik jurusan komposisi di Institut Kesenian Jakarta dan pendidikan musik IKIP Negeri Jakarta. Di sela-sela kuliahnya, ia menyempatkan diri untuk berguru komposisi musik kepada Slamet Abdul Syukur. Selain itu, ia jugamempelajari contra bass pada Amir Katamsi, menjadi murid maestro jazz Indonesia, Jack Lesmana dan Elfa Secioria, serta mempelajari musik tradisi pada para maestro seni tradisi seperti I Gusti Kompyang Raka, I Wayan Diya, Epi Martison, dan lain-lain.
Diddi Agephe juga akrab dengan berbagai proyek musik modern, kontemporer, elektronik, soundscape, multimedia, musik meditasi, relaksasi dan opening chakra, hingga berkolaborasi dengan koreografer papan atas Indonesia. Dalam karier bermusiknya, ia telah bekerjasama dengan musisi papan atas Indonesia, antara lain Addie MS, Tohpati, Indra Lesmana, Faris RM, Titi DJ, Vina Panduwinata, Utha Likumahua dan lain-lain.
Prabbu Shatmata sendiri merupakan salah satu buah kreatifitasnya, sebagai sebuah kelompok yang tak hanya mementingkan musik, tetapi juga sisi spiritual kehidupan. Musisi yang menjadi penata musik lebih dari 30 judul film layar lebar, ribuan episode sinetron dan beberapa kali memenangkan penghargaan ini tertarik mendalami spiritualisme sejak 21 Oktober 1987 tahun silam.
Lahirlah musik meditasi yang sarat dengan frekuensi, vibrasi dan bunyi yang terbukti mampu membantu pencapaian pencerahan spiritual. Ditambahakan cintanya terhadap musik tradisional yang dalam, musik meditasi karya Diddi menjadi sangat unik dan kaya dengan muatan lokal nusantara, sehingga serial music meditasi Diddi dinamakan ‘Nu-soundtara’ . Diddi Agephe juga disebut sebagai komponis pelopor musik meditasi di Indonesia.
Pada awal 2005 Diddi menggarap album kolaborasi dengan putranya Ammir AGP yang berjenis Electronic Rock, dan melakukan aktivitas panggung dengan Ammir. Disela-sela rekaman maupun latihan di studio rekaman pribadinya di daerah Roxy yang menjadi tempat berkumpul para seniman, ternyata topic diskusi yang menarik selain music adalah spiritualisme. Semakin hari semakin banyak teman yang hadir untuk bincang spiritual tidak lagi musik, hingga persahabatan diskusi yang terjalin dengan sadar mempergunakan nama ‘Prabbu Shatmata’.
Setelah hampir 25 tahun mengolah musik meditasi untuk kepentingan pribadi, awal 2007 Diddi mulai serius berbagi musik meditasi komposisinya kepada para sahabat-yang tergabung di komunitas Prabbu Shatmata dimana ia kerap memandu perjalanan spiritual bagi para sahabat melalui pemahaman lintas agama. Kini, selain terus menggarap komposisi musik meditasi, Diddi Agephe juga aktif mengkampanyekan inner-healing melalui aktivitas meditasi dan pemberdayaan
diri.
Prabbu Shatmata yang berarti raja yang hadir di depan mata atau sudah sewajarnya jika kita menjadi raja atas perasaan, pikiran, dan tindakan kita sendiri, bukan kita yang dijadikan budak oleh perasaan, pikiran dan nafsu kita. Dan pada akhirnya duo bapak dan anak ini berlanjut hingga saat ini dengan melampaui beberapa formasi dan musisi. Beberapa pementasan yang pernah dilakukan oleh Diddi Agephe sebelumnya diantaranya berjudul ‘9.9.9 Awakening’ Concert di Salihara pada tanggal 9 September 2009, ‘12.12 .Connection with the Universe’ di Bentara Budaya Jakarta Kompas pada tanggal 12 Desember 2010, dan di dalam Planetarium Jakarta berjudul ‘11:11 Duality become Oneness’ pada tanggal 11 November.

