Deputi Bidang Kelembagaan dan UKM Kementerian Koperasi dan UKM - Setyo Heriyanto
Deputi Bidang Kelembagaan dan UKM Kementerian Koperasi dan UKM - Setyo Heriyanto

BMT Se-Indonesia Capai Aset Rp 4,7 Triliun!

Pemerintah melalui Kementerian Koperasi dan UKM mengakui, bahwa perkembangan koperasi jasa keuangan syariah (KJKS) dalam bentuk Baitulmaal Waa Tanwil (BMT) sangat signifikan.

Deputi Bidang Kelembagaan dan UKM Kementerian Koperasi dan UKM - Setyo Heriyanto
Deputi Bidang Kelembagaan dan UKM Kementerian Koperasi dan UKM – Setyo Heriyanto

Hal ini tidak lepas dari perkembangan kinerja dari BMT secara nasional di tahun ini telah mencapai aset sebesar Rp 4,7 triliun dan jumlah pembiayaan sebesar Rp3,6 triliun. Hal tersebut diungkapkan Deputi Bidang Kelembagaan dan UKM Kementerian Koperasi dan UKM – Setyo Heriyanto di Jakarta (20/3/2015).  Setyo pun menyakini peran dari BMT merupakan salah satu kekuatan lembaga keuangan mikro yang mampu menggerakan sektor riil di masyarakat.

“Keberadaan dari BMT di Indonesia, tumbuh seperti jamur di musim penghujan hal ini tidak lepas dari peran dari berbagai pihak khususnya regulator, asosiasi, para pengelola, anggota dan masyarakat bahkan keberadaan dari BMT juga menjadi aternatif financial inclusion ketika masyarakat tidak mampu mengakses keuangan karena keterbatasan dan beberapa prasyarat yang harus dipenuhi dalam sistem perbankan,” ujar Setyo.

Setyo lalu menambahkan, untuk mengembangkan BMT, saat ini para pegiat BMT banyak tergabung dalam beberapa asosiasi seperti Perhimpunan BMT, Induk Koperasi Syariah (Inkopsyah) BMT, Induk Koperasi Jasa Keuangan Syariah Baitul Tanwil Muhammadiyah dan lain-lain. “Asosiasi-asosiasi tersebut yang selama ini membina dan mengembangkan BMT yang sangat besar,” jelas Setyo lagi. Baca: Inkopsyah BMT Targetkan Pembiayaan Rp 1,3 Triliun di 2015

Setyo menyebutkan, bahwa saat ini sudah ada BMT yang mentargetkan aset di akhir tahun 2015 adalah Rp 2 triliun. BMT tersebut adalah BMT UGT Sidogiri Pasuruan Jawa Timur dimana dalam RAT tahun 2014 mencapai aset Rp 1,4 triliun. Kemudian BMT-BMT lainnya yang terus merangkak naik yang hampir Rp 1 triliun adalah BMT Bina Umat Sejahtera (BUS) Lasem-Rembang Jawa Tengah, BMT Fastabiqul Khoirot Pati, BMT Tamzis Wonosobo, BMT Bringharjo Yogyakarta.

Menurut Setyo, besarnya aset BMT tersebut, tidak lepas dari peran BMT yang mampu mengelola koperasi dengan profesional dan modern. “Bahkan sudah banyak BMT yang maju tersebut menggunakan teknologi yang canggih seperti yang dimiliki oleh perbankan (ATM, internet banking, mobile banking). Dengan adanya fasilitas pelayanan tersebut sekaligus akan menambah rasa kepercayaan anggota terhadap koperasi syariah,” tegas Setyo. Baca Juga: Ini Lho, Resep Sukses Koperasi Syariah

Meski sudah fantastis dalam perkembangannya, lanjut Setyo,  tapi upaya-upaya dalam menanggulangi kendala-kendala dalam pengembangan BMT harus terus dilakukan.  Apalagi tak semua BMT di Indonesia memiliki nasib yang bagus. Untuk itu Kemenkop dan UKM terus membina dan memberikan pengawasan terhadap mereka. Apalagi kendala-kendala klasik dalam pengembangan BMT masih ada saat ini, seperti kualitas sumber daya insani (SDI), teknologi, inovasi produk, pemasaran, pembiayaan dan regulasi.

“Semua itu adalah tugas kita bersama, bagaimana agar BMT agar berkuaitas dan mampu mengimplementasikan konsep ekonomi syariah secara sempurna,” demikian tandas Setyo Heriyanto – Deputi Bidang Kelembagaan dan UKM Kementerian Koperasi dan UKM menutup pembicaraan.

More Stories
Danamon Run 2019 Siap Dihelat