Pertemuan deligasi IDB dan MUI, di kantor MUI Pusat Jakarta, Senin (24/11). foto:MySharing.co

IDB Harus Perdayakan Peternak Kambing Indonesia

[sc name="adsensepostbottom"]

Kementerian Agama dan Islamic Development Bank (IDB) telah penandatangani nota Kesepaham atau MoU terkait pembayaran DAM bagi jamaah haji Indonesia. Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengusulkan agar proyek DAM ini memperdayakan peternak kambing Indonesia.

Pertemuan deligasi IDB dan MUI, di kantor MUI Pusat Jakarta, Senin (24/11). foto:MySharing.co
Pertemuan deligasi IDB dan MUI, di kantor MUI Pusat Jakarta, Senin (24/11). foto:MySharing.co

Ketua Delegasi IDB, Musa Al-Okkasi mengatakan, IDB memastikan akan dapat memasok kebutuhan pembayaran DAM bagi jamaah haji Indonesia. Banyak pedagang dari Arab Saudi yang sudah mengajukan kerjasama dalam hal penyediaan kambing bagi jamaah haji Indonesia. Namun demikian, kerjasama yang diajukan IDB kepada mereka adalah tender.” Kami ajukan tender untuk proyek DAM jamaah haji,” ujar Musa, saat melakukan pertemuan dengan MUI di Jakarta, Senin lalu.

Ketua MUI Bidang Pemberdayaan Ekonomi Umat, Anwar Abbas mengatakan, Indonesia setiap tahunnya mendapat jatah kuato 220 jamaah haji. Mereka membayar DAM, lalu uang itu dikelola oleh IDB untuk dibelikan kambing dari negara sekitar Arab Saudi. Satu ekor kambingnya dihargai Rp 1,5 juta. “Kalau dihitung-hitung, nilai DAM jamaah haji Indonesia sangat besar sekitar Rp 300 miliar,” kata Anwar.

Anwar mempertanyakan kepada IDB, apa manfaat ekonominya buat Indonesia kalau konsep ini didukung? Ia pun mengusulkan, kalau daging yang dibeli untuk DAM jamaah haji Indonesia dipasok dari Indonesia. Sehingga peternak kambing Indonesia bisa diperdayakan. “Sebaiknya kambing-kambing yang dipotong di Makkah adalah kambing import dari Indonesia. Sehingga peternak kambing Indonesia mendapat manfaat ekonomi,” tegasnya.

Pada pertemuan itu, nampaknya IDB menyetujui usulan Anwar Abbas. Namun demikian, tetap harus melalui jalur tender pasokan kambing secara terbuka dengan beberapa syarat yang harus dipenuhi.”Kami setuju, tapi tetap harus tender. Apalagi harga kambing di Indonesia lebih mahal dari harga kambing di Arab Saudi,” tukas Musa.

Anwar pun kembali berargumen, bahwa kalau jalur tender sudah pasti yang menang cuma satu orang. “Saya tidak mau, karena itu namanya yang menang pasti yang kuat. Saya maunya yang menang itu banyak,” tegasnya.

Menurutnya, jamaah haji dari berbagai negara setiap tahunnya ada 3 juta jamaah. Mereka semua membayar DAM untuk pemotongan daging kambing. Untuk pasokan kambingnya, Anwar mengusulkan, agar membuat zona. Misalnya zona Afrika, Asia Timur, Asia Barat, Asia Selatan dan Asia Tenggara. “Indonesia, masuk zona Asia Tenggara. Kalau perlu Indonesia membuat zona sendiri, mengingat jamaah hajinya mencapai 200 juta pertahunnya,” ujarnya.

Namun demikian, Anwar mengakui, harga kambingnya memang harus kompetitif seperti yang diminta IDB. Apalagi kalau memproduksi besar-besaran, harganya pasti turun. Yang menjadi persoalan adalah biaya transfortasi mengangkut kambing ke Arab Saudi, sangat mahal. Hal ini, tentu berdampak pada harga kambing menjadi mahal.

Anwar pun mencontohkan, sapi dari Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB) ketika dijual di Jakarta, harganya mahal. Ini karena diangkut dengan menggunakan kapal kecil, berdampak pada biaya trasportasinya dan harga sapi menjadi mahal. Beda halnya, dengan sapi dari Australia yang di jual di Indonesia, harganya murah. Karena diangkut dengan kapal besar dalam jumlah banyak.”Padahal harga sapi di NTT dan NTB lebih murah daripada harga sapi di Australia,” katanya.

Anwar berharap Presiden Jokowi dengan konsep “Tol Laut” dapat mendukung zona Indonesia dalam ekspor kambing ke Arab Saudi untuk DAM jamaah haji Indonesia. Begitu pula dengan visi “Maritim” Jokowi, membeli kapal induk atau kapal besar.“Saya berharap kapal-kapal besar itu, hendaknya dimanfaatkan untuk mengangkut kambing-kambing ke Arab Saudi dalam jumlah besar. Sehingga biaya transportasi bisa rendah dan harga kambingnya kompetitif,” tandasnya.

Jika program Jokowi berjalan mulus bersinergi dengan proyek IDB di Makkah. Secara otomastis kata Anwar, perternak kambing Indonesia bisa mendapatkan manfaat ekonomi. Menurutnya, kalau sekarang ini, IDB membeli kambingnya dari negara Djibouati, Yaman, dan Ethiopia. Artinya yang mendapat untung ya pengusaha kambing dari negara tersebut. Padahal, Indonesia juga harus diberi kesempatan dalam proyek ini, dengan memperdayakan para peternak kambing.

Atas usulan menyertakan peternak kambing Indonesia pada proyek IDB ini, Anwar dan ulama MUI lainnya akan menghadap menteri agama, menteri luar negeri, menteri perdagangan dan Kamar Dagang dan Industri (Kadin). “Negara Mongolia saja, ngedrop kambingnya di Batam. Kemudian dibawa ke Arab Saudi. Masa Indonesia lebih dekat ko nggak bisa?,” pungkas Anwar.