kampung tas gadukan

Kampung Tas Gadukan, Sentra Tas Kelas Bawah di Surabaya

Kampung Tas Gadukan memiliki segmen ke kelas menengah dan bawah untuk membedakannya dengan sentra tas Tanggulangin, Surabaya. Dengan harga tas tak lebih dari Rp60 ribu, produksi Gadukan cocok untuk pembelian partai besar.

kampung tas gadukanSentra tas di Jawa Timur tak hanya terdapat di Tanggulangin Sidoarjo. Di Surabaya, kawasan pusat produksi tas bisa dijumpai di Jl Gadukan Baru, Morokrembangan. Meski nilai perputaran omzetnya tak sebesar Tanggulangin, kawasan ini semakin menunjang kota Pahlawan lewat program ‘10 Kampung Unggulan’.

Mendapat predikat ‘Kampung Tas’, geliat para perajin di wilayah Gadukan ini sesungguhnya sudah dimulai sejak tahun 1975 yang berjalan terus secara turun temurun dari generasi ke generasi. Awalnya, yang membuat tas hanya berjumlah 6-10 orang. Mereka membuat ‘alat tentengan’ ini dari berbagai macam bahan, dan kreasi.

Seiring dengan peningkatan nilai ekonomi yang dihasilkan, para perajin yang bergerak di bidang ini juga bertambah. Saat ini setidaknya ada 60-an perajin. Mereka tersebar di RW IV, V, dan VI Kelurahan Morokrembangan, Kecamatan Krembangan, Surabaya.

Menurut Koordinator Kampung Tas, Yugi Sugianto, kampung tas di wilayahnya jelas berbeda dari segi segmen maupun style-nya dengan sentra tas yang ada di wilayah Tanggulangin. Di Tanggulangin, selain sebagai tempat produksi, para perajin sekaligus menyediakan showroomnya. Sehingga pembeli bisa langsung melihat hasil para perajin di tempat tersebut.

Sedangkan kampung tas di wilayah Gadukan Surabaya, semata-mata hanya menjadi tempat produksi. Sementara untuk ‘etalase’ produk, konsumen bisa melihat di berbagai tempat.

“Saat ini, hasil produksi kami tersebar di berbagai kota. Selain di Surabaya juga dipasarkan di Jember dan Banyuwangi. Untuk luar pulau, paling banyak terkonsentrasi di wilayah Indonesia Timur,seperti Pontianak, Banjarmasin, Lombok, dan Flores,” papar Yugi.

Bagaimana dengan pemasaran di Surabaya? Masyarakat yang ada di kota ‘Rujak Cingur’ ini bisa menjumpai di pusat perbelanjaan modern, seperti Royal, BG Junction, Darmo Trade Centre (DTC), Pasar Grosir Surabaya (PGS) dan ITC.

Perbedaan lainnya dengan tas Tanggulangin, adalah soal segmen. Segmen tas produksi ‘penghasil petis udang’ itu cenderung menyasar masyarakat kelas menengah ke atas. ”Sementara di wilayah kami mengambil segmen menengah ke bawah. Ini bisa dilihat dari harganya. Harga tas produksi kami tidak lebih dari Rp 60 ribu. Aksesoris yang kami gunakan juga lebih tipis,” ungkapnya.

Tas yang diproduksi beragam mulai dari tas wanita (fashion), tas sekolah, tas laptop dan tas seminar dan variasi lainnya.

Untuk bahan baku, para perajin tas di wilayah ini mengaku tidak mengalami hambatan berarti. Bahan yang digunakan untuk membuat tas berasal dari sintetis imitasi kulit yang didatangkan langsung dari Jakarta.

Demikian juga untuk soal desain. “Kami memperkaya variasi desain dengan mencontoh dari internet,” ungkap Yugi.

Dia mengatakan para perajin di kampung tas masih sangat minim menuangkan ide kreasinya dalam memproduksi tas. Mereka lebih suka mencontoh dari sumber lain, salah satunya ya melalui dunia maya. Mengapa? Yugi bilang, kreasi orisinil dari para perajin cenderung tidak diminati ‘pasar’. Seringkali tas hasil desain para perajin malah tidak laku.

Kendala SDM
Kendala serius yang dihadapi para perajin tas saat ini adalah terbatasnya tenaga kerja (SDM) di bidang pengerjaan. Sebetulnya, keterbatasan sumber daya manusia ini juga pernah dikeluhkan para perajin tas di Tanggulangin Sidoarjo. “Banyak generasi muda yang ogah menjadi pekerja di industri tas. Mereka lebih suka bekerja di industri besar,” paparnya.

Keterbatasan ini pernah disampaikan kepada ‘institusi pendamping’, dalam hal ini Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperdagin) Surabaya. Solusi yang ditawarkan adalah kawasan ini dijadikan sebagai salah satu praktik kerja lapang para siswa Sekolah Kejuruan yang ingin mengetahui seluk beluk proses produksi tas, hingga sampai peluang bisnisnya. Namun, meskipun program tersebut sudah dilakukan, hal itu tak menyelesaikan persoalan yang ada.

“Akhirnya kami mencoba alternatif lain yakni mencari tenaga kerja sampai ke luar Surabaya. Persoalannya, mereka tidak mau datang ke tempat produksi kami, sehingga kamilah yang harus mengangkut sebagian garapan untuk dibawa ke tempat tenaga kerja itu berasal. Kendala inilah yang seringkali membuat ongkos produksi menjadi mahal, sementara di sisi lain kami harus menekan harga jual mengingat segmen kami kelas menengah ke bawah,” keluh bapak dua anak asal Lamongan Jawa Timur ini.

Bantuan Mesin
Beruntung, di tengah kendala tersebut di atas, mereka mendapat bantuan hibah dari Disperdagin untuk memperlancar proses produksi, yakni berupa mesin jahit.

Tentu saja itu bukan satu-satunya bantuan. Sebagai pihak pendamping, Disperdagin juga punya program mengajak para perajin untuk melakukan studi banding ke sentra-sentra produk terkait yang bisa menjadi tempat para perajin menambah ilmu. Bila kampung bordir belajar ke Tasikmalaya, kampung handycraft ke Pasuruan, maka kampung tas mendapat kesempatan melakukan kunjungan ke Tajur Bogor Jawa Barat.

Sekadar gambaran, Tajur merupakan sentra tas di wilayah Bogor. Hampir semua toko di daerah ini memiliki pabrik tas sendiri. Pelanggannya berasal dari banyak daerah, seperti Jakarta, Lampung, Riau, dan Medan. Sentra tas di Jalan Raya Tajur ini sudah berdiri sejak tahun 2000 silam. Seiring berjalannya waktu, kawasan ini semakin kesohor dengan sebutan sentra tas Tajur.

“Sebetulnya secara teknologi kami tidak ketinggalan. Teknologi yang kami gunakan untuk memproduksi tas sama, hanya di Tajur, para perajinnya lebih paham mengenai penggunaan semua fasilitas di alat mesin yang mereka gunakan. Sehingga hasilnya bisa maksimal,” papar pria kelahiran 2 Juli 1974 ini.

Demikian juga menyangkut perizinan usaha, para perajin tas di Gadukan sudah mengantongi izin resmi. Ini berkat Disperdagin yang memberi kemudahan kepada mereka, sehingga usaha mereka bisa mendapatkan legalitas.

Memiliki Koperasi
Sama dengan kampung unggulan lain seperti Kampung Kue dan Kampung Kerupuk, Kampung tas sudah memiliki koperasi untuk menaungi anggotanya. Namun tidak semua perajin tas terdaftar sebagai anggota koperasi. Dari 60-an perajin yang ada, yang terdaftar di Koperasi Tas Sejahtera Surabaya ini hanya 23 orang.

Adapun nilai pinjaman yang bisa dikucurkan koperasi tersebut baru mencapai Rp 3 juta per orang.

Dengan omzet rata-rata 2.400 lusin/perajin/ bulan, para perajin tas yang ada di wilayah ini jelas masih membutuhkan kucuran kredit. “Yah, minimal kami berharap bisa mendapat bantuan kredit Rp 5 juta per orang lah,” kata Yugi.

Bantuan kredit itu sangat dibutuhkan terutama ketika pesanan mengalami peningkatan pesat seperti menjelang Lebaran saat ini. “Biasanya, menjelang Lebaran kami harus menaikkan produksi hingga 20 persen dari nilai produksi rata-rata per bulan,” kata Yugi yang memiliki 5 pekerja dengan omzet 1.400 lusin per bulan ini.

Sayang, di tengah upaya para perajin tas ini untuk melakukan ekspansi, mereka bukan hanya dihadapkan para masalah persaingan perdagangan yang cukup ketat, tetapi juga kurangnya promosi. Tak heran bila sentra tas Tanggulangin lebih terdengar gaungnya ketimbang tas produksi Gadukan Surabaya.

More Stories
Merger Tiga Bank Syariah Akan Berevolusi Bank Syariah Nasional Terbesar