Ketua Yayasan Damandiri Prof Dr Haryono Suyono, tinjau UKM Posdaya. foto: Haryono Suyono

Membawa Pemberdayaan Keluarga ke Level Global

Yayasan Damandiri memperoleh kesempatan berbagi pengalaman  dengan negara lain tentang program Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya), pada konferensi International, Second ASIA Engage Regional Conference di Bali, pertengahan November lalu.

Ketua Yayasan Damandiri Prof Dr Haryono Suyono, tinjau UKM Posdaya. foto: Haryono Suyono
Ketua Yayasan Damandiri Prof Dr Haryono Suyono, tinjau UKM Posdaya. foto: Haryono Suyono

“Konferensi itu membahas inovasi dan kreatifitas untuk membangun kebersamaan komunitas desa menyelesaikan masalah yang dihadapi rakyat di Asian dan negara lain,” kata Ketua Yayasan Damandiri, kepada MySharing, Senin (1/12).

Menurutnya, dihadapan para praktisi dunia dalam konferensi itu, ia menyampaikan, bahwa upaya pengembangan kerjasama masyarakat desa perlu dilakukan melalui pendekatan positif dengan memberikan penghargaan kepada mereka. Penghargaan itu sebagai pembuktian bahwa masyarakat di pedesaan tidak bodoh. Mereka tidak apatis, tetapi selalu kreatif untuk bertahan hidup dalam keterbatasan. Sehingga berbekal sikap positif para penggerak masyarakat siap menggalang kerjasama dengan mereka.

“Kesiapan mental membawa pesan kepada masyarakat desa, bahwa mereka tidak akan dijadikan obyek dari garapan ‘proyek’ yang menghasilkan uang. Tapi suatu upaya membangun mitra kerja untuk mencari solusi yang mudah diterapkan di pedesaan,” tegas Haryono.

Menurutnya, mereka bukan garapan proyek yang dari tahun ke tahun harus melakukan hal-hal yang sama, namun tidak membawa perbaikan bagi kehidupannya. Maka, prinsip yang diperkenalkan adalah bahwa keluarga desa menjadi pemain, pemrakarsa dan akhirnya menjadi pemelihara yang merasakan kegagalan sebagai kesempatan untuk bangkit dengan terlebih dahulu melakukan pemberdayaan keluarga. Kegagalan menjadi momentum untuk mencari solusi dan kebebasan yang diarahkan untuk mewujudkan kesejahteraan keluarga.

Proses pendekatan inilah, lanjutnya, yang menjadi dasar filosofi gerakan pemberdayaan yang memberi kepercayaan kepada masyarakat untuk membentuk, membina dan mengisi Posdaya di desanya. Dan semakin lama dalam kebersamaan di lingkungan Posdaya bisa mengembangkan kemampuan antaranggotanya. Posdaya menciptakan kemandirian keluarga miskin. “Sikap putus asa, nrimo dan pasrah menipis dan akhirnya tumbuh budaya gotong royong, bekerja cerdas dan keras,” tukas Haryono Suyono.

Pemberdayaan masyarakat desa tidak serta merta bisa menjadi gerakan Posdaya yang murni berasal dari bawah. Gerakan itu, seperti halnya seseorang yang mengikuti ujian di sekolah, harus dimulai memperdayakan masyarakat yang mau menerima inovasi. Gerakan ini menggunakan strategi, komunikasi, informasi dan edukasi. Dengan menyertakan 320 perguruan tinggi di Indonesia yang melibatkan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Posdaya. Atas dukungan perguruan tinggi, kini Posdaya sudah mencapai 35 ribu dan tersebar di Indonesia. “Posdaya menjadi ujung tombak pembangunan keluarga di pedesaan,” kata mantan Kepala BKKBN ini.

Lebih lanjut ia menegaskan, penyegaran budaya hidup gotong royong dalam bidan kesehatan, pendidikan, lingkungan dan kewirausahaan adalah program Posdaya. Kegiatan Posdaya ini sebagai bukti nyata bahwa pemberdayaan keluarga mencapai pengorbanan yang tertinggi. Karena keluarga miskin menjadi aktor pembangunan dan dengan bangga, mereka akan berkata “aku bisa, kita bisa, kita sejahtera dan Indonesia jaya!.”

Berita terkait Pos Pemberdayaan Keluarga:

More Stories
KNEKS dan Kemenkop UKM Perkuat Koperasi Simpan Pinjam dan Pembiayaan Syariah