Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) telah berkomitmen menjadikan tanggal 22 Oktober 2015 sebagai Hari Santri Nasional. Jadi, baik diresmikan atau tidak oleh pemerintah, hari santri tetap akan kita laksanakan.

Demikian diungkapkan Ketua Umum PBNU KH. Said Aqil Siradj, pada konferensi pers Kirab Hari Santri, di kantor PBNU, Jakarta, Selasa (6/10).
Bagi Said, peringatan Hari Santri Nasional penting digelar sebagai pengakuan penghormatan jasa pahlawan nasional dan membangkitkan patriotisme generasi muda Indonesia. Bahkan, tegas dia, 22 Oktober itu mempunyai pesan sejarah tentang keutuhan tekad umat Islam untuk mempertahankan Indonesia dari berbagai ancaman.
Untuk tujuan itu, kata Said, PBNU telah menyiapkan rangkaian Kirab Hari Santri Nasional, dari tanggal 16 hingga 22 Oktober 2015, yakni dengan start Tugu Pahlawan Surabaya, melewati 30 PCNU sepanjang jalur Pantura, dan berakhir di Tugu Proklamasi, Jakarta.
Letkol Arie Sutrisno yang turun hadir pada acara ini, mengatakan, sebagai mitra dalam agenda ini, dari tanggal 16-22 Oktober 2015, Ekspedisi Pelayaran Hari Santri Nasional menjadi bagian tidak terpisahkan. Pelayaran dengan menggunakan kapal perang akan diikuti 1000 santri dengan melibatkan badan otonom, pesantren, dan ormas-ormas Islam. ”Panitia yang sudah dibentuk, kini sedang berkoordinasi dengan pihak kapal perang,” kata Arie.
Arie menjelaskan, rangkaian kegiatan hari santri nasional dilakukan oleh gugus tugas ”Nusantara” alias NU, santri dan tentara. Menurutnya, hari santri jangan sampai menjadi sekedar pengumuman tapi harus mempunyai efek membangkitkan apa yang dicita-citakan presiden Joko Widodo yang hendak menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia.
Dalam ekspedidi tersebut, lanjut dia, akan diselenggarakan apel lintas laut Jakarta-Surabaya-Bali. Sepanjang tanggal 16-22 Oktober itu, juga akan diadakan ziarah, bahtsul masail, istighotsah, lailatul ijtima, pengobatan gratis dan pangelaran seni.

