wisata jakarta

Pengembangan Wisata Syariah di Jakarta

[sc name="adsensepostbottom"]

Wisata syariah berkembang pesat di Indonesia dalam satu dekade terakhir ini. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif telah menetapkan 12 destinasi wisata syariah, salah satunya DKI Jakarta yang kental dengan budaya Betawi.

wisata jakartaKepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta, Dr. Arie Budhiman, M.Si, mengatakan pihaknya berkepentingan untuk memberikan dukungan terhadap kebijakan yang telah ditetapkan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mengembangkan wisata syariah di Jakarta. Gubernur Joko Widodo juga sudah mengeluarkan Peraturan Gubernur No 158 Tahun 2013 Tentang Tata Cara Sertifikat Halal Restoran dan Non Restoran. “ Kini telah ada 37 merak usaha dan 506 outlet restoran bersertifikasi halal serta dua hotel berkategori hotel syariah,” kata Arie.

Namun demikian, tegas Arie, wisata syariah tidak hanya menyediakan makanan halal dan hotel syariah. Justru bagaimana aktivitas yang bernuansa Islam baik berupa kegiatan ziarah maupun mengunjungi bangunan sejarah dengan arsitektur bernilai tinggi dilayani oleh kota metropolitan seperti Jakarta ini sangat hidrogen.

Jakarta sudah merupakan distinasi internasional, banyak sekali wisatawan mancanegara yang dating ke kota Jakarta. Dan sesuai dengan tuntutan pasar, salah satu pasar utama Jakarta adalah, misalnya kawasan ASEAN yaitu negara Malaysia dan Brunai serta Timur Tengah. Wisatawan dari 3 negara tersebut tentu akan lebih nyaman tinggal di hotel syariah.

Menurut Arie, dengan dijadikannya Jakarta sebagai kota Syariah, ada peningkatan wisatawan yang berkunjung ke ibu kota Jakarta. Tren pasar wisatawan mancanegara terutama dari pasar ASEAN dan Timur Tengah kecenderungannya meningkat.

“Tentu saja ini yang mengembirakan dan barangkali yang perlu saya sampaikan bahwa ketika bicara wisata syariah tidak hanya dibatasi oleh hotel berlabel syariah dan restoran bersertifikat halal. Tapi juga bagaimana ada objek-objek wisata ziarah, misalkan masjid Istiqal, Masjid Al Amin Marunda, Cagar Budaya, Masjid Luar Batam dan Masjid Al-Azhar,” kata Arie.

Semua objek wisata tersebut merupakan bagian wisata syariah. Disamping itu, Arie menyampaikan wisata syariah berkembang luas pada kegiatan mahasiswa untuk belajar Al-Qur’an. Di Jakarta ada Perguruan Tinggi Al-qur’an(PTIQ),Institut Ilmu Al-qur’an (IIQ) dan Universitas Syarief Hidayataallah serta pondok pesantren. Kunjungan ke perguruan tinggi Islam, aktivitas syiar dan belajar ilmu agama Islam merupakan bagian dari wisata syariah. “Pandangan kami, wisata syariah ini tidak hanya diimplentasikan secara sempit, namun bisa dikembangkan dengan berbagai aktivitas yang baik,” ujar Arie.

Terkait dengan Gerakan Ekonomi Syariah (Gres) yang dicanangkan Presiden SBY. Arie memandang ekonomi syariah merupakan potensi yang dikembangkan, karena di Jakarta maupun di Indonesia pasarnya sangat luas. Masyarakat Indonesia bagian dari ekonomi syariah ada 250 juta. Ini angka yang luas biasa besar dan berpotensi raksasa, yang bisa diambil dari berbagai produk ekonomi syariah, termasuk DKI Jakarta.

Penduduk Jakarta mungkin sekitar 10 juta, tidak bisa dipisahkan dari Jabodetabek JORR sebagai kawasan megapolitan ada 37 juta populasi di kawasan ini. Sehingga Jakarta sangat potensial untuk berbagai aktivitas ekonomi syariah. “Kami juga berkepentingan untuk terus mengembangkan dinamika dari kegiatan ekonomi syariah, khususnya presfektif Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta kepada wisaya syariah,” tegas Arie.

Siapkan SDM Profesional

Menyambut Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta tidak saja menganggapnya sebagai tantangan atau ancaman tapi juga sebagai peluang. Arie menuturkan MEA tentu menyangkut seluruh struktur bisnis, industri dan jasa. Jadi memang tidak semat-mata untuk kegiatan syariah.Namun demikian, bahwa ASEAN ini merupakan salah satu pasar utama untuk kegiatan pariwisata. Sehingga sangat dimungkinkan kalau Jakarta siap mempersiapkan kegiatan wisata syariah dalam arti yang luas, jadi tidak hanya sertifikasi halal. Ini tentu akan memberikan pilihan yang luas kepada pasar Asean.

Namun demikian didalam pengorganisasian tersebut, ini sebetulnya menyangkut tenaga kerja. Bagaimana SDM ini memiliki kompetensi terkait apakah dengan wisata syariah secara luas maupun lebih khusus menjadi pelatih dari sertifikasi halal. Ini tentu saja, SDM bisa mengembangkan profesionalismenya ke beberapa negara ASEAN.

“Ini bisa menjadi pertukaran tenaga kerja, misalnya dari Malaysia atau Brunai tidak menutup kemungkinan bekerja di Jakarta dan begitu juga sebaliknya. Yang kami harapkan bahwa dengan MEA, maka SDM professional yang punya kompetensi untuk wisata syariah bisa mengembangkan bisnis di lingkup kawasan Asean,” papar Arie.

Untuk mewujudkan SDM professional, tambah Arie, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta memberikan pelatihan kepada tenaga kerja yang sudah terserap pada industri pariwisata baik mereka yang bekerja di hotel, restoran, biro perjalanan wisata maupun objek wisata. Berbagai profesi yang ada ini ujung tombak pelayanan terdepan.

Mereka telah dipersiapkan dengan standar kompetensi pelatihan modul dan program. Ini sebagai upaya bagaimana Dinas Pariwisata memiliki kesiapan lebih baik dalam menyambut MEA. Yang didalamnya ada persaingan SDM professional di industri pariwisata.