Dompet Dhuafa mencatat penghimpunan dana sosial dari masyarakat sebesar Rp 195,7 miliar hingga Oktober 2014.

Presiden Direktur Dompet Dhuafa, Ahmad Juwaini, mengatakan jumlah tersebut menunjukkan grafik peningkatan dari penghimpunan dana setiap tahunnya di kisaran 10 sampai 15 persen. “Kami bersyukur masih dipercaya masyarakat sebagai lembaga penerima zakat terbesar di Indonesia,” ujar Ahmad, dalam siaran pers yang diterima mysharing, Selasa (23/12).
Untuk pentasarufan dana, Dompet Dhuafa menggedepankan empat pilar pemberdayaan yaitu bidang kesehatan, ekonomi, pendidikan dan pengembangan sosial. “Dengan mengedepankan empat pilar tersebut, maka pentasarufan akan lebih maksimal, tepat sasaran dan tentu memuliakan penerima manfaatnya,” cetus Ahmad.
Ia menambahkan hingga Oktober 2014, jumlah penerima manfaat dari program-program Dompet Dhuafa mencapai 1.071.160 orang yang tersebar pada empat pilar tersebut. Sementara, untuk sebaran penerima manfaatnya sudah menjangkau 33 provinsi di Indonesia dan 17 negara.
Rincian penerima manfaat di bidang ekonomi sebanyak 584.064 orang (55 persen), bidang kesehatan 205.628 orang (19 persen), bidang pendidikan 52.874 orang (5 persen) dan pengembangan sosial 228.594 orang (21 persen). Baca Juga: Dompet Dhuafa Apresiasi 20 Perusahaan Peduli CSR
Menurut data capaian di atas, program ekonomi mencatatkan penerima manfaat paling banyak ketimbang tiga pilar lainnya. Hal tersebut terkait adanya beberapa program andalan seperti Pertanian Sehat Indonesia, Kampung Ternak Nusantara dan Masyarakat Mandiri. Sedangkan di bidang kesehatan, Rumah Sehat Terpadu juga menjadi salah satu program unggulan.
Ahmad memaparkan pada tahun 2015, pihaknya ingin terus menguatkan pemberdayaan di bidang ekonomi. “Karena setiap objek yang kami lihat, cenderung hanya dikembangkan potensi sosial dan budayanya saja, nah kini kami ingin lebih melakukan pendekatan pada sektor ekonomi,” kata Ahmad. Baca: Lestarikan Benih Lokal, Dompet Dhuafa Bangun Kedaulatan Pangan
Ia menyontohkan desa binaan Dompet Dhuafa di kawasan Jampang, Parung, Bogor, yang dikembangkan menjadi desa wisata berbasis silat. Nantinya pengunjung akan dikenakan biaya untuk turut menggerakkan perekonomian di sana. “Model tersebut nantinya juga akan kami kembangkan di sejumlah daerah, sehingga perekonomian bangsa terus membaik,” pungkas Ahmad.

