industri keuangan syariah

Perkuat Industri Keuangan Syariah Jelang MEA

industri keuangan syariah
Wakil Ketua DPR RI, Mohamad Sohibul Iman. Foto: Ikatan Ahli Ekonomi Islam.

“Saat ini, Cina dan Singapura sedang berbenah agar para sultan dan raja-raja dari Timur Tengah mau menyimpan uang di sana,” kata Wakil Ketua DPR RI, Mohamad Sohibul Iman pada seminar nasional “MEA 2015: Tantangan dan Peluang Bagi Industri Keuangan dan Perbankan Islam Indonesia” yang diadakan oleh Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) (18/6) di Universitas Yarsi, Jakarta.

Bekerjasama dengan Sekolah Pascasarjana Universitas Yarsi dan Paramadina Graduate School, seminar ini menghadirkan Moch. Muchlasin (Direktur IKNB Syariah OJK RI), Dwi Irianti Hadiningdyah (DJPU Kementerian Keuangan RI), dan Yuslam Fauzi (Wakil Ketua Umum IAEI) selain Mohamad Sohibul Iman yang bertindak sebagai Keynote Speaker.

“Perbankan Islam kita mempunyai prospek yang luar biasa”, ujar Sohibul Iman dalam pidato kuncinya. Sohibul Iman menambahkan bahwa Perbankan Syariah harus memperkuat Institutional Framework agar dapat bersaing dalam MEA.

Menurut Sohibul Iman, tantangan terbesar dari Perbankan Syariah dalam menghadapi MEA adalah Sumber Daya Manusia. “Bank Indonesia pada 2006 memprediksi bahwa Perbankan Islam membutuhkan 25 ribu SDM dalam 20 tahun kedepan”, ujar Sohibul Iman. Perkembangan Perbankan Islam tidak cukup hanya dilakukan oleh aktivis Ekonomi Islam tetapi para birokrat dan politisi harus ikut berperan. Dalam kata penutupnya beliau menyampaikan, “Indonesia berpeluang menjadi hub atau pusat Keuangan Islam Dunia”.

Narasumber lain, Moch. Muchlisin dari OJK menjelaskan bahwa tidak hanya perbankan syariah yang menjadi perhatian, tetapi Industri Keuangan Non-Bank Syariah pun turut diperhatikan. “Saat ini Asuransi Indonesia berada dalam urutan 118 di dunia”, ujar Muchlisin. Hal ini membuktikan masyarakat Indonesia belum sadar ber-asuransi. Peluang Industri Perbankan maupun Non-Perbankan dalam menghadapi MEA adalah Indonesia dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi dengan pasar yang lebih luas, aliran modal yang bebas akan dapat dimanfaatkan Indonesia untuk membangun industri dan liberalisasi perdagangan akan memberikan kelancaran dan efesiensi penyaluran barang karena tidak adanya hambatan berupa tarif atau non tarif.

“Saat ini, Cina dan Singapura sedang berbenah agar para sultan dan raja-raja dari Timur Tengah mau menyimpan uang di sana”,  Wakil Ketua DPR RI, Mohamad Sohibul Iman.

Salah satu instrumen keuangan syariah yang diakui dunia adalah Sukuk. Dwi Irianti menjelaskan bahwa hal ini terbukti dengan diraihnya 28 penghargaan Internasional atas Sukuk Negara. Sukuk Negara telah disahkan oleh Presiden Republik Indonesia pada tahun 2008 dan sampai saat ini Sukuk Negara yang sudah dikeluarkan sudah lebih dari Rp 200 Trilyun. Dwi Irianti menambahkan perkembangan industri keuangan Islam yang pesat, tingginya demand atas instrumen keuangan syariah dan komitmen Pemerintah dalam mengembangkan industri keuangan syariah domestik menjadi peluang penerbitan dan pengembangan Sukuk kedepan khususnya dalam menghadapi MEA 2015.

Mantan Direktur Utama Bank Syariah Mandiri (BSM) yang juga Wakil Ketua IAEI, Yuslam Fauzi, menjelaskan bahwa Perbankan Syariah butuh pegawai yang tidak sedikit. “Rata-rata kebutuhan pegawai Perbankan Syariah Pada tahun 2007-2013 adalah 6150 orang/tahun, kedepannya dengan asumsi pertumbuhan SDM 30.9% per tahun maka kebutuhan SDM tahun 2017 adalah 20.838/tahun”, ujar Yuslam. Tantangan SDM Perbankan Syariah adalah kompetensi. Kompetensi SDM Indonesia berada pada urutan 44 pada tahun 2012. Yuslam optimis apabila kompetensi SDM Indonesia khususnya di bidang Industri Keuangan Syariah terus dikembangkan maka Indonesia akan sukses hadapi MEA.