Gerai Bank Muamalat Indonesia Kuala Lumpur

Semester II, Bank Muamalat Fokus di Pembiayaan Ritel

[sc name="adsensepostbottom"]

Jumlah penduduk Indonesia yang mencapai lebih dari 250 juta jiwa membuat pasar ritel menggiurkan. Bank Muamalat pun kian fokus masuk ke pembiayaan ritel pada semester II 2014.

Hingga Juni 2014 Bank Muamalat mencatat pembiayaan sebesar Rp 44,3 triliun. Direktur Keuangan dan Operasional Bank Muamalat, Hendiarto, mengatakan sampai pertengahan tahun ini pembiayaan ritel memiliki porsi 56 persen. Pembiayaan ritel yang dimaksud adalah pembiayaan kepada usaha kecil dan menengah (UKM), mikro dan konsumer.

“Sampai akhir 2014 pembiayaan ritel akan lebih ke KPR dan mikro. Kami berharap bisa tumbuh 15 persen di semester II ini,” ungkap Hendiarto ditemui usai pemberian penghargaan Alpha Southeast Asia, Selasa (26/8).

Gerai Bank Muamalat Indonesia Kuala LumpurSampai saat ini pembiayaan ritel UKM memiliki porsi 15 persen dari total pembiayaan ritel yang sebesar Rp 24,8 triliun. “Harapannya UKM bisa tumbuh 20 persen di semester II ini,” ujar Hendiarto. Bank Muamalat terus menggenjot pembiayaan UKM mengikuti himbauan Bank Indonesia yang menetapkan penyaluran pembiayaan perbankan sebesar 20 persen untuk UKM.

Sementara, pembiayaan KPR tercatat sebesar Rp 12 triliun.Hendiarto menuturkan dengan rebranding produk KPR Muamalat yang sebelumnya bernama Baiti Jannati menjadi pembiayaan KPR iB Muamalat membuat produk KPR Bank Muamalat semakin dikenal oleh masyarakat luas. Bagian rebranding tersebut menjadi salah satu dari enam transformasi yang dilakukan bank tersebut sejak 2012.

“Selain transformasi produk dan layanan, kami juga melakukan repositioning bisnis, membuat standarisasi kantor cabang, membenahi saluran distribusi, memiliki core banking baru dan transformasi di manajemen risiko,” papar Hendiarto.

Di saluran distribusi jumlah ATM Bank Muamalat yang sebelumnya berjumlah 22 unit menjadi 1800 unit tahun ini. “Di tahun 2009 transaksi di ATM cuma berjumlah 50 ribu per bulan, dan sekarang sudah ada 2,5 juta transaksi yang menyumbang sekitar 25 persen bagi pendapatan berbasis upah,” jelas Hendiarto. Sementara, mobile banking pun nantinya akan memiliki platform baru.

Bisnis Remittance

Dari sisi bisnis remittance (pengiriman uang), Bank Muamalat juga sedang melakukan studi untuk memperluas layanan remittance ke negara-negara yang menjadi kantong tenaga kerja Indonesia, seperti Hong Kong dan Arab Saudi. Saat ini fokus remittance Bank Muamalat baru berada di Kuala Lumpur, Malaysia.

Hendiarto menuturkan pihaknya memiliki empat loket layanan remittance di Malaysia, namun kontribusinya pada pendapatan berbasis upah masih kecil. “Itu karena transaksinya memakai mata uang lokal dan payment-nya ada di dalam negeri,” jelas Hendiarto. Khusus kantor cabang di Kuala Lumpur, Bank Muamalat bekerjasama dengan jaringan Bankcard sehingga nasabah dapat melakukan transaksi tarik tunai di 2000 ATM di seluruh Malaysia melalui jaringan Maybank, Hong Leong Bank, Southern Bank, dan Affin Bank.

Sampai dengan Juni 2014 Bank Muamalat mencatat aset sebesar Rp 58,4 triliun, dana pihak ketiga Rp 46 triliun (giro Rp 4,4 triliun, tabungan Rp 12,1 triliun, deposito Rp 29,4 triliun), pembiayaan Rp 44,3 triliun, dan laba sebelum pajak Rp 285,3 miliar. Pembiayaan tumbuh 16 persen dari periode sama tahun lalu, sedangkan pertumbuhan year-to-date sebesar 7 persen.