Kenaikan laba bersih itu ditopang pendapatan bunga bersih sebesar 17,4 persen dan pendapatan non bunga 23,1 persen.
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI mencatat laba bersih sebesar Rp 11,34 triliun pada 2016. Laba bersih tumbuh 25,1 persen dibandingkan pada tahun 2015 yang tercatat sebesar Rp 9,07 triliun.
“Kenaikan laba bersih sebesar Rp 11,34 triliun atau 25,1 persen itu ditopang pendapatan bunga bersih yang naik sebesar 17,4 persen dan pendapatan non bunga yang naik sebesar 23,1 persen,” kata Wakil Direktur Utama BNI Suprajarto dalam keterangan resminya yang diterima MySharing, Senin (30/1).
Suprajarto menjelaskan, sepanjang tahun 2016, BNI memperoleh pendapatan bunga bersih sebesar Rp 29,99 triliun atau naik 17,4 persen dibandingkan 2015 yang sebesar Rp 25,56 triliun. Peningkatan pendapatan bunga bersih tersebut membuat BNI mampu menjaga margin bunga bersih di level 6,2 persen. Sementara itu pendapatan non-bunga juga naik 23,1 persen dari Rp 6,98 triliun di 2015 menjadi Rp 8,59 triliun di 2016.
Menurut Suprajarto, kenaikan pendapatan non-bunga ini didukung utamanya oleh kenaikan fee yang diperoleh dari transaksi trade finance, pengelolaan rekening dan debit card, serta fee yang diperoleh dari bancassurance.
Dia menegaskan, bahwa kenaikan laba bersih merupakan pencapaian yang membangggakan, karena angkanya tumbuh cukup baik walaupun pertumbuhan ekonomi sekitar 5 persen. Pencapaian 2016 ini menunjukkan pengelolaan bisnis yang lebih baik, yakni dengan mengimplementasikan strategi bisnis yang tepat dan aspek pembiayaan yang prudent ditopang manajemen risiko yang lebih baik. “Kalau dari aset, kita sudah menembus Rp 603,03 triliun. Mudah-mudahan sebentar lagi bisa menyusul bank yang di atas kita,” ungkap Suprajarto.

