Bank Muamalat akan mulai bergerak ke arah digital banking.
Direktur Utama Bank Muamalat Indonesia Endy PR Abdurrahman mengatakan, memasuki kuartal III 2016, likuiditas dan kualitas pembiayaan Bank Muamalat masih terjaga dengan baik. Rasio pembiayaan terhadap dana pihak ketiga (financing to deposit ratio/FDR) pun dijaga agak lebih tinggi.
“Untuk rasio FDR dijaga agak tinggi, namun itu bukan masalah likuiditas tapi lebih menghemat, karena kalau rendah, itu kan jadi biaya dana. Jadi kami atur seefisien dan sebaik mungkin, sehingga biaya terjaga baik. Kami efisiensi semua biaya manusia dan operasional,” paparnya saat ditemui usai Muamalat Berbagi Cahaya Kurban, Selasa (13/9).
Pihaknya juga berupaya menjaga rasio pembiayaan bermasalah masih dalam batas koridor yang aman. “Rasio pembiayaan bermasalah nett masih di bawah lima persen sesuai aturan mainnya. Kami akan memastikan tetap di bawah lima persen. Saat ini masih 3,9 persen,” ujar Endy.
Ke depannya, lanjut Endy, Bank Muamalat akan menargetkan bisnis pembiayaan sesuai dengan keadaan pasar. “Untuk tahun depan target pembiayaan sesuai keadaan pasar saja karena sekarang kan melambat. Namun, kami lihat tahun depan kondisi pasarnya, kami bisa 5-10 persen Insya Allah,” cetusnya.
Untuk lebih menggenjot pertumbuhan, tambah dia, Bank Muamalat pun akan mulai mengembangkan digital banking pada tahun ini sampai tahun depan. “Untuk digital banking, kami akan mulai bergerak ke arah sana, seperti e-money tapi bertahap di tahun 2016-2017,” ungkapnya.
[bctt tweet=”Rasio Pembiayaan Bermasalah BMI, 3,9%” username=”my_sharing”]

