Dosen Dosen University of Wollongong Australia, Prof. Dr. Nadirsyah Hosen dan artis Peggy Melati Sukma, pada pengajian di MUI Pusat Jakarta, Selasa (27/1). foto: MySharing.co

Nadirsyah : Gaya Dakwah Mad’u Harus Dihindari

[sc name="adsensepostbottom"]

Majelis Ulama Indonesia (MUI) diharapkan mengirim da’i untuk memberikan pencerahan keagamaan pada warga Indonesia di tengah kehidupan masyarakat luar negeri yang metropolis dan sekuler. Penyampaian dakwah pun diharapkan tidak menyalahi mad’unya.

Dosen Dosen University of Wollongong Australia, Prof. Dr. Nadirsyah Hosen dan artis Peggy Melati Sukma, pada pengajian di MUI Pusat Jakarta, Selasa (27/1). foto: MySharing.co
Dosen University of Wollongong Australia, Prof. Dr. Nadirsyah Hosen dan artis Peggy Melati Sukma, pada pengajian di MUI Pusat Jakarta, Selasa (27/1). foto: MySharing.co

Dosen University of Wollongong Australia, Prof. Dr.Nadirsyah Hosen menyampaikan metode dan pendekatan dakwah metropolitan yang jauh dari kesan menghakimi. ”Banyak ustad yang berdakwah cenderung menghakimi ketimbang mengajak, padahal di dalam masyarakat Muslim minoritas yang sekuler dan tertib, pendekatan itu tidak efektif,” papar Nadirsyah di hadapan peserta Halaqah Da’awiyah MUI Pusat , Jakarta, pada Selasa (27/1).

Menurutnya, dalam kompleksitas masyarakat metropolis perlu disikapi secara arif. Gaya dai yang sering menyalahkan mad’unya atau menghakimi objek dakwah harus dihindari.

Nadrisyah pun berbagi pengalaman di Australia, saat ia mengajak seorang perempuan untuk mengaji. “ Dia bilang malu karena tidak memiliki jilbab. Saya minta datang dengan baju yang paling sopan. Akhirnya dia datang dengan baju yang dia miliki. Namun, saat ustad yang saya panggil dari Indonesia mengajar. Perempuan ini ditunjuk-tunjuk oleh ustad karena tidak mengenakan jilbab. Akhirnya dia kapok tidak ikut pengajian lagi. Inikan cara dakwah yang salah, tidak memahami realitasnya,”

Oleh karena itu, Nadirsyah menyarankan, agar lembaga-lembaga dakwah membuat rumusan tentang strategi dakwah yang tepat. Buatkan peta dan kurikulum dakwah yang kontekstual agar tujuan dakwah dapat maksimal. “Untuk kasus dakwah di lingkungan minoritas harus menggunakan pendekatan budaya. Perlu juga difikirkan pentingnya minoritas bagi umat Islam yang hidup di luar negeri, seperti Eropa, Australia, Amerika dan Negara lainnya,” tegasnya.

Ia menegaskan, bahwa komunitas Indonesia di luar negeri juga ingin mendapatkan masukan keagamaan bagaimana jika majikan tidak membolehkan sholat atau terpaksa memakan makanan yang tidak halal. “Persoalan seperti ini, tentunya perlu mendapatkan jawaban dan perhatian dari MUI,” ujar Nadirsyah.

Nadirsyah berharap MUI  bisa menyapa warga negara Indonesia dengan mengirimkan para da’i untuk memberikan pencerahan keagamaan di tengah kehidupan masyarakat di luar negeri yang metropolis dan sekuler.