Indonesia berpeluang untuk menjadi pusat fashion Muslim di kawasan ASEAN. Sebesar apakah peluang tersebut?

“Pasar fashion Muslim dunia kini tidak hanya mencakup wilayah Timur Tengah dan Afrika, namun juga Amerika dan Eropa. Dengan jumlah penduduk Muslim terbesar, Indonesia memiliki modal dasar mengembangkan fashion Muslim Indonesia. Ditambah dengan banyaknya bermunculan komunitas fashion Muslim, Indonesia juga berpotensi menjadi hub produk fashion Muslim, khususnya di ASEAN,” demikian ujar Sulistyawati dengan bersemangat.
Sulistyawati sangat meyakini, perhelatan akbar Indonesia Fashion Week 2015 ini akan menjadi ajang yang strategis bagi industri fashion Muslim di tanah air untuk bisa menampilkan kreatifitasnya yang layak bersaing di ajang pasar global.
- Fauzi Arfan Resmi Terpilih sebagai Ketua Umum AASI 2026–2029
- Milad ke-34, Bank Muamalat Perkuat Sinergi Filantropi: Renovasi Masjid-Musala di Wilayah Bencana Sumatera
- Milad ke-34, Bank Muamalat Teguhkan Komitmen Tumbuh Bersama dan Memberi Manfaat
- BCA Syariah Gelar Aksi Donor Darah dan Pemeriksaan Kesehatan Gratis
“IFW 2015 merupakan kiprah pelaku kreatif fesyen Indonesia dalam menggali kreativitas dengan kearifan lokal. Fesyen muslim Indonesia memiliki potensi besar untuk dikembangkan, baik dari segi bahan baku, keragaman budaya, sumber daya manusia, dan pasar produk. Menyambut Masyarakat Ekonomi ASEAN, mari kita dorong kreativitas dan inovasi pelaku kreatif fesyen muslim Indonesia ke kancah global,” tambah Sulistyawati, seraya menegaskan bahwa pihaknya sangat concern mendukung pengembangan industri fashion Muslim di tanah air.
Pada kesempatan konferensi pers tersebut, Sulistyawati sekaligus juga memaparkan bahwa Kemendag akan memfasilitasi 40 booth dari 160 booth yang ada di Zona Fesyen Muslim. Para pelaku usaha yang difasilitasi terdiri atas pelaku fashion yang merupakan anggota APPMI, dimana sebagian telah mengikuti coaching program pengembangan merek oleh Ditjen PEN.
Dalam konferensi pers tersebut juga diungkap data, tentang pertumbuhan ekspor fashion periode 2009-2013, yang mengalami pertumbuhan positif 10,59% per tahun. Pada 2013, nilai ekspor produk fashion Indonesia mencapai USD 11,78 miliar. Sementara periode Januari-November 2014, nilai ekspor fashion sebesar USD 12,51 miliar atau mengalami peningkatan 16,59% dari periode yang sama tahun 2013, dengan negara utama tujuan ekspor meliputi Amerika Serikat (35,60%), Jepang (6,79%), Jerman (6,04%), dan Uni Emirat Arab (4,18%). Nilai ekspor produk fashion yang terus bertumbuh diatas, juga termasuk produk fashion Muslim karya para desainer Indonesia, yang kini mulai menancapkan kukunya di industri fashion Muslim global.
Keyakinan Sulistyawati di atas, sejalan dengan optimisme Fashion Designer Muslim Indonesia – Ulyn Nikmah, yang selama ini sudah sering mempromosikan fashion Muslim Indonesia di mancanegara. “Dengan berkembangnya ekonomi syariah di Indonesia, maka diharapkan pula industri fashion muslim di tanah air menjadi semakin berkembang. Bahkan Indonesia kini menargetkan bisa menjadi kiblat fashion muslim dunia 2020, serta menjadi salah satu tujuan utama wisata belanja fashion Muslim global,” demikian ditegaskan Ulyn Nikmah saat ditemui MySharing di sebuah seminar di Jakarta belum lama ini.
Ulyn Nikmah lantas menegaskan, bahwa harapan di atas bukan sekadar isapan jempol belaka. Karena memang Indonesia mempunyai banyak keunggulan di bisnis fashion Muslim ini.
“Indonesia memiliki desainer-desainer fashion Muslim berusia muda yang sangat berbakat. Kita juga memiliki kain-kain tradisional yang bagus. Dan jika itu bisa dikolaborasikan menjadi suatu desain fashion Muslim yang ekslusif, maka bisa menjadi identitas dari fashion muslim Indonesia,” demikian ujar Ulyn menutup pembicaraan.

