Harapan investor Indonesia akan imbal hasil investasi di tahun ini terbilang tinggi, yaitu 14,5 persen.

Direktur Pengembangan Bisnis Manulife Aset Manajemen Indonesia, Putut E Andanawarih, mengatakan porsi alokasi investor yang sebagian besar masih ditempatkan pada tabungan/deposito dan properti sebenarnya tidak sejalan dengan harapan investor yang menginginkan imbal hasil investasi sebesar 14,5 persen di tahun 2015. Namun, 68 persen investor Indonesia berencana untuk terus menambah porsi dana tunai selama enam bulan ke depan, dan 56 persen ingin menambah porsi investasi di properti. Baca: Investor Asing Dominasi Kepemilikan Saham di Indonesia
“Tingkat suku bunga deposito di Indonesia saat ini hanya setengahnya, yaitu sekitar 7-8 persen dan menurut pemerintah Indonesia akan ada kenaikan inflasi sebesar 3-5 persen pada tahun 2015, yang artinya imbal hasil dari simpanan di bank akan jauh lebih rendah,” katanya, dalam pemaparan hasil Manulife Investor Sentiment Index, Kamis (5/3). Baca Juga: Mengoptimalkan Investasi Reksa Dana Syariah
- Bank Mega Syariah Umumkan Pemenang Poin Haji Berkah Tahap 3
- BSI Resmi Naik Kelas Sebagai Persero, Mayoritas Pembiayaan ke Segmen Konsumer dan Ritel
- BCA Syariah Luncurkan BSya Digital Membership Card Ivan Gunawan Prive dan Mandjha
- CIMB Niaga Ajak Nasabah Kelola Gaji dan Finansial dengan Lebih Bijak melalui OCTO
Mengomentari mengenai apa yang dapat dilakukan oleh investor untuk meraih target ambisius mereka di tahun 2015, Putut menyarankan agar investor Indonesia memanfaatkan instrumen investasi lainnya. “Dengan menguatnya ekonomi domestik dan juga dengan mempertimbangkan potensi pertumbuhan ekonomi di Indonesia yang akan berjalan dengan pesat di tahun 2015, kami menyarankan agar para investor dapat memanfaatkan peluang investasi lainnya, diluar dari yang selama ini mereka pahami, seperti alternatif investasi di reksa dana saham atau reksa dana pendapatan tetap,” ujar Putut.
Secara keseluruhan, indeks sentimen investor di Indonesia turun 14 poin ke angka 50 pada kuartal keempat tahun 2014, yang diperkirakan akibat dampak pengurangan subsidi BBM yang diimplementasikan pada November 2014. Kendati turun cukup jauh, angka tersebut masih lebih tinggi daripada rata-rata sentimen di Asia yang merosot hingga angka 26, dan sedikit lebih rendah dari rata-rata sentimen di Indonesia dalam dua tahun terakhir yang berada pada angka 51,5.

