Deputi Badan Nasional PenangulanganTerorisme (BNPT), Agus Surya Bakti mendatangi gedung Majelis Ulama Indonesia, pada Senin (17/3).

Menurutnya, BNPT tengah mengupayakan agar tidak semakin banyak warga negara Indonesia yang berangkat ke Suriah lewat Turki atau negara Timur Tengah lainnya. Untuk menangkal keberangkatan warga Indonesia, BNPT sudah berkoordinasi dengan kantor imigrasi.”Kami mengandeng semua pihak. Wait and see,” tegasnya.
Namun ketika ditanya berapa jumlah dan latar belakang warga Indonesia yang berpotensi berangkat ke Suriah, Agus enggan berkomentar. Menurutnya, banyak pihak yang terkait, dan jumlah detailnya berapa banyak, yang lebih tahu polisi.
Sebelumnya, 16 warga Indonesia ditahan pemerintah Turki di perbatasan negara itu. Mereka diduga akan menyeberang ke Suriah untuk bergabung menjadi anggota milisi. Mereka berasal dari Lamongan, Bandung dan Ciamis. Satu di antaranya adalah keluarga teroris M Dayah yang tewas dalam penyergapan pada Juli 2013. Dayah adalah warga Sumatera Utara dan menikah dengan seorang perempuan asal Paciran Lamongan.
Perempuan itu memiliki kakak bernama Achsanul Huda yang terbang ke Suriah pada Juli 2013 menyusul Bahrumsyah. Namun, Huda dikabarkan tewas di Suriah bersama Ustand Siswanto.
Sementara itu, Wakil Kapolri Komisaris Jenderal Badrodin Haiti, di Mabes Polri mengatakan, pemerintah Turki berencana mendeportasi ke 16 warga Indonesia tersebut, tapi mereka menolak. “Alasan mereka menolak mau menetap di Suriah, meski sedang berkecamuk perang,” kata Badrodin, seperti dilansir dari detik, Selasa (17/3).

