Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menargetkan ciptakan 20 ribu wirausaha di sektor industri kecil dan 4.500 di sektor menengah.

Euis menegaskan, kalau UKM kemungkinan bisa disarankan untuk berdagang saja atau bertani lalu menjual hasil panennya. Sedangkan kalau industri ada proses dan pelakunya harus diberi pemahaman. ”Kalau usaha di bidang makanan, mereka harus tahu bagaimana mengelola makananya,” ujarnya.
Menurutnya, kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM) industri itu harus dibangun tidak hanya ilmu cara menjual, tapi juga ilmu cara membuat. Cara membuat itu ada pendidikan khusus, sehingga pendidikan di bidang industri perlu dibagi kepada kawula muda, terutama yang sudah mempunyai pemikiran-pemikiran kreatif.
Euis berharap ketika Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015 tiba, pelaku usaha IKM dalam negeri sudah bisa ikut bersaing. Sehingga mulai saat banyak yang harus disiapkan, termasuk tenaga yang terampil guna menghasilkan produk berkualitas. Jangan sampai ketika MEA datang, negara lain menjadi juragan di negara kita, karena SDM kita lemah kalah saing,”
Menurut Eusi, upaya quick win atau percepatan penambahan wirausaha baru dilakukan dengan menggandeng perguruan tinggi, seperti Institut Pertanian Bogor (IPB), Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Bramijaya Malang atau lembaga swasta. ”Mereka kan punya satu temuan inovasi. Itu harus diaplikasi, siapa yang mau membeli inovasinya, agar itu menjadi industri,” kata Euis.
Namun demikian, kata Euis, yang selalu menjadi masalah adalah komersialisasi hasil litbang atau hasil inovasi ke dunia nyata. Inilah yang paling sulit, sehingga pemerintah harus intervensi. Kementerian Perindustrian, IKM misalnya, bisa membuat model-model, diberi modal sepenuhnya dan kalau sudah terlaksana ternyata bagus hasilnya. Produk industri itu bisa ditawarkan ke semua APBD dan desa-desa yang memiliki uang.”Daripada uangnya binggung dibelikan untuk apa lebih baik beli industri inovasi anak muda untuk membangun desanya,” paparnya.

