Tangkal ISIS, Orangtua Harus Perkokoh Pondasi Agama

[sc name="adsensepostbottom"]

Mejelis Ulama Indonesia (MUI) menghimbau seluruh masyarakat agar mewaspadai Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) dan menjaga anak-anaknya dengan lebih memperkokoh pondasi agama.

anak isisSebuah video pelatihan perang yang diadakan SIS dengan peserta anak-anak Indonesia beredar di YouTube, pada Selasa (17/3) lalu. Video berjudul “Cahaya Tarbiyah di Bumi Khilafah” yang diungguh akun bernama “Ular Kadut Unyu-Unyu” itu telah ditonton lebih dari ratusan orang. Tampilan video itu sangat merisaukan masyarakat Indonesia, karena ISIS semakin masif melakukan perekrutan anggotanya, fokusnya kini anak-anak.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Amidhan Shaberah, menyatakan, bahwa MUI sudah sekian kali mengeluarkan menghimbau kepada seluruh masyarakat kalau ISIS itu bertentangan dengan ajaran Islam. “ISIS itu bertentangan dengan agama Islam,” kata Amidhan kepada MySharing, di kantor MUI Pusat Jakarta, Rabu (18/3). Baca: Tangkal Radikalisme, BNPT Gandeng MUI

Amidhan juga sangat prihatin atas perektrutan ISIS terhadap anak-asanak Indonesia untuk dilatih perang, Amidhan pun menghimbau kepada seluruh masyarakat Indonesia agar mewaspadai ISIS, dan melindungi anak-anaknya supaya tidak mudah terjebak dan bergabung dengan ISIS. “Orangtua harus menjaga dan membangun pondasi agama yang kuat dan kokoh dalam jiwa anak, agar mereka tidak bergabung dengan ISIS,” kata Amidhan.

Sementera itu, Sekretaris Jenderal Komisi Perlindungan Ibu dan Anak (Sekjen KPIA) Erlina, mengatakan,pergeseran target yang dilakukan oleh kelompok radikal ISIS adalah anak-anak dan remaja. Karena pada usia belia dinilai sangat potensial untuk menanamkan paham radikal hingga ke akarnya. ”Kondisi jiwa anak yang masih labil, serta baru berkembang dan mencari jati diri menjadikan mereka mudah dipengaruhi propaganda kelompok radikal ISIS,” kata Erlina, kepada MySharing, saat dihubungi, Kamis (19/3).

Selain itu, lanjut Erlina, lemahnya pengawasan orangtua menjadi celah kelompok ISIS untuk merektrut anak-anak menjalankan aksinya. Orang tua pun diminta untuk membangun pondasi agama yang kokoh bagi anak-anaknya. Jika pondasi agak lemah dan rapuh, niscaya mereka akan terombang-ambing, tergelincir dan terjerumus ke lembah kesesatan. Seperti pengaruh radikal ISIS, yang ajarannya bertentangan dengan agama Islam. “Meskipun anak-anak kita punya ideologi. Tapi kalau ideologinya masih mentah, pasti mudah terpengaruh kuatnya informasi pada diri si anak,” ujarnya. Baca Juga: Mau Jadi Negara Kaya? Terapkan Pendidikan Berkualitas

Dalam aksinya, ISIS telah merektrut pemuda dari 80 negara. Polri telah mengendus adanya sponsor yang membiayai program perektrutan ISIS ini. Diduga ada ratusan warga negara Indonesia yang telah bergabung dengan ISIS di Suriah.