New Zealand akan Gelar Simposium Wisata Syariah

[sc name="adsensepostbottom"]

Auckland Institute of Studies menjadi tuan rumah Simposium Wisata Syariah New Zealand yang akan digelar pada 23 Maret 2015.

sukuk wakafPasar wisatawan muslim dinilai sebagai pasar yang akan kian terus berkembang dalam beberapa tahun mendatang. Sejumlah negara minoritas non muslim seperti Korea Selatan dan Jepang pun sudah semakin serius menyiapkan sejumlah fasilitas yang mengakomodasi kebutuhan wisatawan muslim. Namun, langkah serupa belum diikuti oleh New Zealand. Oleh karena itu, Auckland Institute of Studies pun akan menjadi tuan rumah Simposium Wisata Syariah yang rencananya akan dilaksanakan pada Senin, 23 Maret 2015.

Pakar pariwisata dari University of Waikato, Associate Professor Asad Mohsin, menuturkan sektor pariwisata menyumbang 15 miliar dolar per tahun bagi produk domestik bruto New Zealand. Wisata syariah pun punya potensi besar untuk turut menyumbang sektor pariwisata New Zealand. “Tujuannya sederhana, yaitu agar para wisatawan ini bisa bersantai dan disambut dengan baik di negara kami,” ujar Mohsin, dilansir dari Voxy, Jumat (20/3).

Simposium Wisata Syariah selama satu hari penuh itu bertujuan agar pelaku pariwisata dapat mempromosikan New Zealand sebagai destinasi ramah muslim kepada wisatawan muslim maupun pelaku bisnis, dengan mengakomodasi kebutuhan mereka yang sesuai keyakinan Islam selama berkunjung ke New Zealand. Konferensi tersebut diperkirakan akan dihadiri 100 peserta dari sektor pariwisata, hotel, pemerintah, dan pendidikan tinggi. Baca: Optimalisasi Program Wisata Syariah

Mohsin menekankan pentingnya industri pariwisata New Zealand untuk terus mengeksplorasi pasar baru untuk menjaga nilai dan keuntungan sektor pariwisata, “Misalnya saja, Indonesia yang populasi muslimnya sekitar 220 juta dan merupakan salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat, warga Indonesia yang berlibur mengeluarkan dana hingga 7,2 miliar dolar pada 2012, namun baru sedikit dari mereka yang mengunjungi New Zealand,” ungkap Mohsin, yang juga menjadi Chairman dan Co-founder Simposium Wisata Syariah.

Sementara, wisatawan muslim asal Timur Tengah lebih memilih kawasan Eropa dan Inggris untuk liburan keluarga. “Sedikitnya empat hotel internasional di Eropa sudah mulai beriklan bahwa mereka menyediakan pula fasilitas bagi wisatawan muslim dan hasilnya bisnis mereka naik,” ujar Mohsin. Oleh karena itu, lanjutnya, peningkatan awareness mengenai wisata syariah di New Zealand sangat dibutuhkan. Baca: Destinasi Favorit Wisatawan Muslim Mulai Bergeser

Di sisi lain, Mohsin mengakui saat ini banyak miskonsepsi mengenai wisata syariah. Salah satu tantangannya adalah mengedukasi pelaku pariwisata di New Zealand mengenai betapa mudahnya melayani kebutuhan wisatawan muslim tanpa mengeluarkan banyak biaya. “Contohnya saja, operator pariwisata cukup menginformasikan kepada wisatawan dimana masjid terdekat, menyediakan daftar café dan restoran yang menyediakan makanan halal, dan menaruh sajadah dan tanda kiblat di kamar hotel,” jelas Mohsin.

Ia pun berharap untuk mengembangkan strategi pemasaran wisata syariah di New Zealand, bekerjasama dengan berbagai organisasi seperti Tourism New Zealand, Tourism Export Council, Hotel Council, dan Federation of Islamic Associations New Zealand. Berdasar studi Thomson Reuters, pasar wisatawan muslim dunia diperkirakan senilai 137 miliar dolar.