Total Aset Bank Syariah Bukopin Tumbuh 18,84% Selama 2014

[sc name="adsensepostbottom"]

Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) PT Bank Syariah Bukopin (BSB) pada hari ini (26 Maret 2015) di Hotel Puri Sriwedari-Jakarta, terungkap  fakta tentang kinerja bisnis yang positif dari bank umum syariah satu ini, meski situasi perbankan syariah nasional di tahun 2014 secara umum masih kurang kondusif.

bukopin syariahMenurut Direktur Utama Bank Syariah Bukopin – Riyanto, sepanjang tahun 2014 lalu, pengetatan likuidtas yang dialami perbankan nasional turut juga dirasakan oleh perbankan syariah. “Tekanan likuiditas yang dialami perbankan lebih kepada mahalnya biaya dana ketersediaan likuiditas di pasar. Iklim ekonomi yang kurang kondusif ikut mempengaruhi kinerja penghimpunan dana di perbankan syariah,” demikian ujar Riyanto.

Lebih lanjut Riyanto, ketatnya persaingan meraih DPK juga dirasakan oleh BSB. Kendati begitu, sampai Desember 2014 lalu, BSB masih mampu mencatatkan pertumbuhan DPK yang positif dengan kenaikan mencapai 22,09%. Total DPK tumbuh dari Rp3,27 triliun pada 2013 menjadi Rp. 3,99 triliun pada periode yang sama 2014. Kemudian, total aset BSB tumbuh 18,84% dari Rp 4,34 triliun pada 2013 menjadi Rp 5,16 triliun pada 2014. Sedangkan pembiayaan di tahun 2014 meningkat sebesar Rp429 miliar, atau 13,07%, dari Rp 3,282 triliun pada tahun 2013 menjadi Rp 3,711 triliun pada tahun 2014.

“Kami juga melakukan inovasi dengan meluncurkan produk pembiayaan seperti produk pembiayaan iB Kepemilikan Logam Mulia, produk pembiayaan iB SiAga Pensiun, dan produk pembiayaan iB Pendidikan. Inovasi produk iB Pendidikan tidak lepas dari ikatan historis yang kami miliki dengan organisasi masyarakat Muhamaddiyah,” papar Riyanto.

Selain mereview kinerja BSB tahun lalu, Riyanto juga menceritakan target bisnis bank umum syariah yang dipimpinnya di tahun 2015 ini. Menurutnya,  BSB mencanangkan target pertumbuhan kinerja bisnisnya sebesar 20% sampai dengan 30% di tahun 2015. Riyanto menjelaskan,  target yang dicanangkan tersebut sudah diperhitungkan dengan matang dengan melihat situasi dan kondisi ekonomi bangsa pada saat sekarang ini.

Riyanto lalu menambahkan, sektor bisnis yang akan dirambah BSB pada tahun 2015 ini juga telah dikaji dengan selektif, dengan lebih mengedepankan sektor bisnis yang dianggap mempunyai daya tahan lebih pada kondisi ekonomi yang kurang stabil saat ini.  “BSB akan masuk di sektor kesehatan, pendidikan, properti, transportasi, manufaktur, perdagangan, jasa dan usaha,” demikian Riyanto menutup pembicaraan.