Penduduk Indonesia dinilai masih banyak menolak menggunakan perbankan konvensional karena alasan agama, yakni sekitar tiga juta orang. Potensi ini berpeluang besar untuk mengembangkan perbankan syariah di Indonesia.

“Indonesia negara yang paling banyak penduduknya menolak bank konvensional, karena alasan agama atau riba. Angka ini menunjukkan Indonesia menjadi negara cikal bakal kebangkitan ekonomi Islam di dunia,” kata Adiwarman, dalam workshop di BNI Syariah di Gedung Tempo Paviliun, Jakarta, Kamis (10/4). Baca:Investor Timur Tengah Minati Bank Syariah Indonesia
Pernyataan Adiwarman tersebut didasarkan pada data Global Financial Development Report 2014 World Bank. Menurutnya, Indonesia jika dibandingkan dengan beberapa negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) memiliki presentase penduduk yang tidak berbank karena alasan agama sebesar 1,5 persen. Posisi Indonesia ini masih berada di level bawah dibandingkan Qatar sebesar 11,6 persen dan Oman sebesar 14,2 persen.
Namun, lanjutnya, presentase tersebut menjadi lebih besar jika dikalikan dengan jumlah penduduk Indonesia.”Kalau dikalikan jumlah penduduk Indonesia yang sekitar 220 juta orang. Yaitu 220 juta dikalikan 1,5 persen, maka ada sekitar tiga juta orang di Indonesia yang tidak berbank karena alasan agama,” tegasnya.
Meskipun demikian, lanjutnya, jumlah penduduk Indonesia yang bersentuhan dengan lembaga keuangan formal cukup besar yaitu sebesar 19,6 persen. “Jumlah penduduk yang layak dan menjadi nasabah bank di Indonesia ada 19,6 persen. Jika dikalikan dengan jumlah penduduk sekitar 220 juta orang, maka ada sekitar 44 juta nasabah.
Hal ini menjadikan Indonesia memiliki potensi yang sangat besar dalam perkembangan lembaga keuangan dari luar negeri. Bahkan, beberapa bank asing di Indonesia memiliki kantor cabang yang lebih banyak dibandingkan di negara asalnya. “Dengan potensi yang begitu besar, makanya Indonesia jadi kue yang diperebutkan oleh banyak orang asing,” pungkasnya. Baca: Indonesia Akan Miliki Bank Syariah Global, 2015.

