Menkeu Imbau Perbankan Syariah Miliki Tata Kelola Baik

[sc name="adsensepostbottom"]

Sektor keuangan syariah menjadi sektor yang relatif tahan krisis ketika krisis ekonomi global melanda pada 2008 silam. Untuk menjaga daya tahan tersebut perlu didukung pula oleh tata kelola manajemen yang baik.

bank syariah global
Menteri Keuangan Prof. Bambang Brodjonegoro, Ph.D paparkan rencana Indonesia dirikan bank syariah global pada 2015. Foto: STIE Perbanas

Menteri Keuangan RI, Bambang PS Brodjonegoro, mengatakan dalam suatu studi pada 2009 yang membandingkan daya tahan antara bank syariah dengan bank konvensional ketika menghadapi krisis global, dinyatakan secara umum bank syariah punya daya tahan lebih kuat berhadapan dengan krisis dibanding bank konvensional. “Ini karena bank konvensional banyak yang main instrumen derivatif yang sangat spekulatif, sedangkan bank syariah tidak ada, cenderung konservatif dan mengedepankan kehati-hatian. Itu kunci bank syariah punya daya tahan lebih baik,” ujar Bambang saat membuka Seminar Nasional Ikatan Ahli Ekonomi Islam ‘Integrasi Keuangan Syariah Menuju Stabilitas Keuangan dan Pembangunan Ekonomi Berkelanjutan’, Selasa (14/4).

Ia menuturkan perbankan syariah mungkin punya daya tahan lebih baik, namun belum jadi yang terbaik. “Hal ini yang harus diperbaiki,” tegasnya. Menurut Bambang, dengan daya tahan lebih baik berarti kontribusinya ke stabilitas keuangan cukup signifikan. Paling tidak ketika ada gonjang-ganjing di sektor keuangan, bank syariah tidak berisiko, kecuali ada missmanagement. Baca Juga: Sistem Moneter Berbasis Emas, Solusi Tepat Mengatasi Krisis Rupiah

Bambang pun mengimbau agar perbankan syariah menjaga tata kelola manajemennya. Pasalnya jika ada bank syariah yang salah urus, pasti secara umum akan menunjuk bahwa seluruh industri perbankan syariah bisa kolaps. “Untuk menjaga stabilitas keuangan, maka tata kelola dan manajemen harus dijaga sebaik-baik ga. Tidak ada ruang untuk kesalahan, karena kalau ada satu kesalahan itu akan membuat keuangan syariah tidak berkembang,” tukas Bambang.

Sementara, Plt Kepala Eksekutif Lembaga Penjamin Simpanan, Fauzi Ichsan, mengatakan walaupun industri keuangan syariah tumbuh signifikan masih ada harapan yang belum berhasil diwujudkan, seperti stabilitas institusi dan industri perbankan syariah belum teruji dan masih rentan terhadap instabilitas dan krisis keuangan. “Perlakuan buruk manajemen pun tidak hanya di perbankan konvensional,” katanya.

Menurutnya, bank syariah tidak ada eksposur terhadap sektor yang besar, namun punya eksposur ke sektor riil. Dengan demikian, jika harga komoditas turun maka dampak ke bank syariah akan negatif. Fauzi mengungkapkan dari pengalaman krisis keuangan Asia dan krisis global, walau perbankan syariah selamat dari first round crisis, bank syariah hampir dipastikan terkena dampak dari second round of crisis ketika krisis keuangan bertransformasi menjadi krisis ekonomi.

“Krisis ekonomi membuat sektor riil terpukul sehingga perbankan syariah juga ikut terpukul,” ujar Fauzi. Oleh karena itu, lanjut Fauzi, bank syariah perlu melakukan diversifikasi portofolio. Walaupun persentase portofolio terbesar tetap ditujukan pada sektor riil, tetapi investasi dan pembiayaan pada sektor lainnya tetap harus dilakukan. Baca: Perlunya Diversifikasi Di Tengah Likuiditas Ketat