Lebih dari 50 produk hasil dari program Satu Desa Satu Produk (One Village One Product/OVOP) di seluruh Indonesia binaan Kementerian Koperasi Usaha Kecil Menengah (Kemenkop dan UKM) menjadi pilot project KONTRA Korea.

”Untuk tahap awal akan di seleksi 50 produk unggulan dari 100 produk OVOP yang paling berpotensi untuk dikembangkan menjadi pilot project,” kata Meliadi, dalam konferensi pers di kantor Kemenkop dan UKM, di Kuningan Jakarta, Jumat (17/4).
Adapun kriteria seleksi yang akan dilakukan KONTRA, adalah dengan melihat kesiapan koperasi, bahan baku, pengrajin atau petani (anggota koperasi), lokasi dan penerimaan pasar akan produk tersebut. “Peserta akan berkompetensi mengenai ide-ide bisnis mereka yang paling inovatif dan kreatif. Pemenang selain mendapatkan uang tunai, juga akan mendapatkan pendampingan dalam pengembangan usaha dari tenaga ahli yang kompeten dibidangnya,” ujar Meliadi. Baca: 100 UKM Akan Bermitra Dengan Korea
Menurutnya, pada pilot project ini, KONTRA akan memfasilitasi perusahaan Korea Selatan yang ada di Indonesia untuk menggunakan dana CSR-nya untuk mendukung pengembang produk unggulan Indonesia dengan pendekatan OVOP melalui koperasi. Satu perusahaan Korea direncanakan akan menjadi sponsor untuk satu koperasi. Dalam upaya meningkatkan produk koperasi mulai dari proses produksi, peningkatan kualitas kemasan, fasilitas teknologi yang dibutuhkan, hingga pemasaran melalui Q10, Lejel Home Shopping dan Lottemart.
Seperti halnya Lejel Home Shopping telah mengindentifikasi 35 produk unggulan yang berpotensi untuk dapat dipasarkan melalui jariangannya. “Diharapkan kerjasama ini dapat teralisasi tahun ini, sehingga 50 produk unggulan OVOP bisa go international,” kata Meliadi.
Lebih lanjut ia menyampaikan, Kemenkop UKM dan KONTRA Korea telah melakukan kunjungan kepada koperasi produk gula aren di Cilacap dan gula semut di Kulonprojo Jawa Tengah. Selain itu, kunjungan dilakukan juga di Koperasi Unit Desa (KUD) Persatuan Tani Maju (Pertama) di Kesugihan Induk Kabupaten Cilacap.
KUD Pertama Tani Maju ini memiliki 600 orang anggota, tergabung dalam beberapa kelompok yang mayoritas adalah penderas gula, yang kapasitas produksi sebanyak 25 ton perbulan. Pemasaran dalam bentuk gula semut-nya sebagian besar masih di wilayah Cilacap dan Yogyakarta. Sedangkan untuk eskpor sudah menembus Brunai dan Singapura.
Menurutnya, KUD Pertama Tani Maju ini sudah terseleksi oleh KOTRA Korea. Denganya adanya kerjasama ini, diharapkan satu perusahaan Korea yang bergerak dalam bisnis gula, khususnya gula semut dapat bekerjasama dengan koperasi dalam hal ini KUD Pertama Tani Maju. “Diharapkan melalui dana CSR, perusahaan Korea tersebut dapat membantu KUD Pertama Tani Maju untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas produksi gula semut dengan bantuan teknologi disertai pelatihan,” tukasnya.

