Rasio pembiayaan bermasalah perbankan syariah melonjak di dua bulan pertama tahun ini. Per Februari 2015 rasionya bahkan melewati batas ketentuan.

Menurutnya, pembiayaan yang melambat menyebabkan kenaikan NPF perbankan syariah pada Februari 2015. Pembiayaan BUS dan UUS naik sangat tipis pada Februari 2015. Dari bulan sebelumnya pembiayaan perbankan syariah hanya naik Rp 264 miliar. “Karena pembiayaan tidak meningkat signifikan, jadi NPF naik. Di sektor riil semua wait and see, sehingga memang terjadi perlambatan. Pengawas bank syariah sudah dipanggil supaya bisa segera menyelesaikan hal itu, jadi harus ada action plan-nya,” jelas Mulya.
Ia pun menambahkan bank-bank syariah besar yang sedang melakukan konsolidasi dengan manajemen baru juga menjadi salah satu faktor melambatnya pembiayaan. “Mereka sedang melihat kembali pembiayaan yang selama ini disalurkan maka semua jadi melambat, padahal dua bank syariah besar ini (Bank Syariah Mandiri dan Bank Muamalat) kontribusi pangsanya 40-50 persen jadi efek ke industrinya besar,” tukas Mulya. Pembiayaan perbankan syariah pada rentang waktu 8-15 April 2015 pun menurun 0,08 persen. Baca: Bank Muamalat Mulai Konsolidasi
Sementara, Kepala Penelitian, Pengembangan Pengaturan, dan Perizinan OJK, Dhani Gunawan Idat, mengakui NPF perbankan syariah saat ini lebih tinggi dibanding 10 tahun lalu, namun hal tersebut disebabkan karena konsolidasi beberapa bank syariah. “Kami berharap konsolidasinya bisa berakhir tahun ini dan kemudian selanjutnya bisa tumbuh secara progresif,” ujar Dhani. Baca: 2015, Bank Syariah Optimis Pembiayaan Tumbuh 25 Persen
Per Februari 2015 BUS dan UUS menyalurkan total pembiayaan sebesar Rp 197,54 triliun. Dari jumlah tersebut sebanyak Rp 10 triliun masuk dalam kategori pembiayaan bermasalah, naik Rp 400 miliar dari pembiayaan bermasalah Januari 2015 yang sebesar Rp 9,6 triliun. Pada Januari 2015 total pembiayaan BUS dan UUS sebesar Rp 197,27 triliun.

