Moody’s: Roadmap Keuangan Syariah akan Dorong Konsolidasi Perbankan Syariah

[sc name="adsensepostbottom"]

Pemerintah Indonesia bersama regulator keuangan sedang menyiapkan roadmap keuangan syariah. Langkah itu pun dinilai akan mendorong konsolidasi perbankan syariah tanah air.

Roadmap-SyariahMoody’s Global Head of Islamic Finance, Khalid Howladar, menuturkan kendati rata-rata pertumbuhan perbankan syariah Indonesia sebesar 30 persen, namun pangsa pasarnya masih sekitar lima persen. “Roadmap keuangan syariah pemerintah Indonesia harus dapat lebih mendorong pertumbuhan sektor keuangan syariah,” kata Howladar, dilansir dari CPI Financial, Rabu (27/5).

Moody’s Vice President and Senior Analyst for the Financial Institutions Group, Simon Chen, menjelaskan roadmap keuangan syariah Indonesia yang akan mendukung konsolidasi perbankan syariah pada akhirnya akan meningkatkan skala permodalan bank, menambah efisiensi biaya, dan pembiayaan sektor korporasi dan infrastruktur. “Konsolidasi akan meningkatkan tingkat profitabilitas bank dan kemampuan mereka menambah modal internal, serta menghimpun modal eksternal. Tingkat profitabilitas yang tinggi akan meningkatkan daya tarik sektor keuangan syariah bagi investor, dan karenanya akan mendorong pertumbuhan sektor keuangan syariah,” papar Chen.

Laporan Moody’s menyebutkan sejak akhir 2005 aset perbankan syariah Indonesia tumbuh 33 persen per tahun, melampaui pertumbuhan perbankan konvensional. Namun, pangsa pasar perbankan syariah hanya 4,6 persen dari total aset perbankan nasional pada November 2014, naik dari 1,4 persen pada 2005. Sementara jumlah bank syariah bertambah dari tiga bank menjadi 12 bank. Baca: OJK: Aset Bank Syariah Tumbuh 17,96 Persen Tahun Ini

Di sisi lain, jaringan perbankan syariah masih kurang luas dibanding perbankan konvensional. Begitu pula dengan isu permodalan yang lebih kecil. Bank syariah Indonesia juga fokus pada pembiayaan yang lebih berisiko seperti ritel, usaha mikro, kecil dan menengah, dibanding pembiayaan korporasi. Segmen pasar yang lebih berisiko itu akhirnya membuat rasio pembiayaan bermasalah lebih tinggi dari perbankan konvensional. Biaya kredit yang lebih tinggi dan skala ekonomi yang lebih kecil juga membuat tingkat profitabilitas bank syariah lebih kecil dari bank konvensional.

Moody’s menyatakan pasar sukuk Indonesia yang kurang dalam juga mengakibatkan terbatasnya perbankan syariah untuk menghimpun dana dan menyesuaikan dengan aset jangka panjang, misalnya pembiayaan rumah dengan sumber dana berdurasi sama. Ini berbeda dengan Malaysia yang telah memiliki pasar sukuk yang likuid. Baca: Dorong Pasar Sukuk Korporasi, Regulasi Harus Ramah Syariah

Kendati demikian, Indonesia yang memiliki populasi mayoritas muslim dan daya tarik keuangan syariah membuat negara ini dinilai akan berkontribusi besar bagi pasar modal syariah di masa mendatang. Dengan keuangan syariah semakin dikenal di Timur Tengah dan Asia, semakin banyak pula pemangku kepentingan yang mendukung pasar modal syariah global, dimana Indonesia akan memegang kunci utama.