Tangkal Radikalsime, NU Kampanyekan Islam Nusantara

[sc name="adsensepostbottom"]

Nahdatul Ulama (NU) berkomitmen menangkal gerakan radikalisme dan terorisme dengan terus mengkampanyekan Islam Nusantara secara global.

KH. Yahya Staquf (kiri), Prof Dr. Rudiger Lohlker (kiri kedua), Prof Dr. Abdelmonem Found Othman, (tengah), Mohamed Aboelfadi Ahmed dan Yenny Wahid di mimbar, saat diskusi "Konsilidasi Dunia Islam Menghadapi Radikalisme dan Terorisme, di Wahid Institute, Jakarta, Jumat (29/5).
KH. Yahya Staquf (kiri), Prof Dr. Rudiger Lohlker (kiri kedua), Prof Dr. Abdelmonem Found Othman, (tengah), Mohamed Aboelfadi Ahmed dan Yenny Wahid di mimbar, saat diskusi “Konsilidasi Dunia Islam Menghadapi Radikalisme dan Terorisme, di Wahid Institute, Jakarta, Jumat (29/5).

Menjelang pelaksanaan Muktamar Nahdatul Ulama (NU) ke-33, Wahid Institute menggelar diskusi bertajuk “Konsilidasi Dunia Islam Menghadapi Radikalisme dan Terorisme,” di Jalan Amir Hamzah, Jakarta Pusat, Jumat (29/5).

Diskusi ini menghadirkan pembicara international yaitu utusan khusus Grand Syeikh Al-Azhar Mesir Profesor Dr. Abdelmomen Fouad Athman, Profesor Studi Islam Universitas Wina, Austria, Rudiker Lohlker, dan redaktur senior harian Al-anhram Mesir Mohamed Aboelfadhi Ahmed.

Pada diskusi ini, Yenny Wahid, putri mantan Ketua PBNU Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, tampil  sebagai keynote speaker. Dalam pidatonya, Yenny menyampaikan, diskusi ini menjadi rangkaian acara menjelang Muktamar NU ke-33 yang akan diselenggarakan pada Agustus 2015 mendatang, dan dihadiri oleh Presiden Jokowi.

Lebih lanjut ia memaparkan, bahwa paham radikalisme dan terorisme sudah menyebar di dunia dan sangat dikhawatirkan. NU berkomitmen menangkal gerakan radikal terutama gerakan yang sangat berlebihan dan mengkafirkan orang lain. “NU berupaya menjadi salah satu instrument kebangsaan dalam menguatkan kehidupan yang toleran, saling menghargai dan penuh perdamaian,” tegasnya.

Menurutnya, NU dengan senantiasa mengumandakan Islam Nusantara yakni Islam yang menerima perbedaan dalam perdamaian tanpa saling mengkafirkan. Karena mengkafirkan orang lain itu suatu hal yang buruk dan kalau terimplekasinya berat sekali hukumnya.

Kembali ia menegaskan, bahwa kalau orang sudah dianggap kafir, maka hak orang yang dianggap kafir itu akan hilang sebagai Muslim. Hukuman kita yang mengkafirkan orang lain juga sangat berat, kemungkinan bisa ditolak di alam baka. “Jadi janganlah kita mengkafirkan orang lain,” tukasnya.

NU, lanjutnya, akan terus mengkampanyekan secara global, karena ternyata semakin banyak perhatian dunia akan model Islam Indonesia yang kemudian diberi judul Islam Nusantara yang dianggap perlu sebagai model Islam di dunia. “Dunia memandang bahwa Islam yang dipraktekkan di Indonesia sangat toleransi, damai dan penuh kasih sayang,” pungkasnya.