Pesawat supersonik Concorde terakhir kali mengangkasa di udara pada 2003. Sejak itu, belum lagi ada pesawat sejenis yang mengudara. Sampai NASA baru-baru ini melakukan riset untuk membangun pesawat supersonik.

NASA pun ingin melihat apakah peningkatan jumlah pesawat supersonik akan berdampak pada atmosfer bumi. Pasalnya, pesawat supersonik memerlukan bahan bakar lebih banyak daripada pesawat jet tradisional dan pesawat lainnya yang terbang dekat stratosfer, sehingga dapat berdampak pada lapisan ozon. Baca: Membina Masyarakat dengan Program Lingkungan
Sebagaimana dilansir dari laman Mirror, Rabu (10/6), riset tersebut juga akan meneliti mengenai emisi. Sejumlah dana akan digunakan untuk membuat perjalanan supersonik yang lebih tenang. Pasalnya saat Concorde terbang, suara yang dihasilkan sangat kencang sehingga bisa membunyikan alarm kebakaran.
- KNEKS dan Atsiri Research Center Universitas Syiah Kuala bekerja sama Mengembangkan Hilirisasi Bahan Baku Halal berbasis Minyak Nilam
- Bank Muamalat Catat Kenaikan Jumlah Transaksi Top Up Kartu Uang Elektronik Hingga 180,52%
- Asosiasi DPLK dan DPLK Syariah Muamalat Inisiasi Sinergi Ekosistem Syariah bagi Sektor Informal
- Bank Muamalat Sukses Raih Dua Penghargaan di Ajang TOP GRC Awards 2026
Ketika Concorde mencapai kecepatan yang melebihi kecepatan suara ini – disebut dengan Sonic Boom – maka akan terdengar seperti suara bom meledak. NASA pun menyatakan saat ini sudah ada kemajuan pada riset untuk meredam suara tersebut. Baca Juga: Skema Syariah Harus Biayai Pembelian Pesawat dan Infrastruktur
Jika riset penelitian ini berhasil, NASA pun memprediksi akan mampu mengembangkan pesawat jet supersonik pada 2025 dan pesawat supersonik komersial pada 2030. Hingga saat ini, satu-satunya pesawat supersonik yang beroperasi adalah pesawat jet tempur militer. Pesawat supersonik yang digunakan untuk penerbangan komersial pun akan mengurangi drastis waktu tempuh penerbangan.

