Dai Ambassador Corps Dai Dompet Dhuafa, Azzam At-Tsauri berbagi kisahnya berdakwah di negara jiran, Malaysia.

Sedikitnya lapangan pekerjaan dan rendahnya jenjang pendidikan mereka di Indonesia mengharuskan mereka menjadi pekerja kasar di negeri orang. Menghindar dari petugas imigrasi negara tujuan menjadi langkah awal untuk menggapai harapan mereka. Baca: OJK dan BNI Edukasi TKI di Tokyo
Tak ingin menghidupi keluarga dengan nafkah yang tak halal, menjadi buruh bangunan, pembantu rumah tangga, dan pekerjaan-pekerjaan kasar lainnya merupakan pilihan yang tepat. “Pekerjaan itu mereka lakukan dengan upah di bawah standar yang ada di Malaysia. Mereka pun harus bekerja sembunyi-sembunyi dari petugas imigrasi,” jelas Azzam At-Tsauri, Dai Ambassador Corps Dai Dompet Dhuafa (Cordofa) yang kini melangsungkan dakwah di Malaysia, dalam siaran pers yang diterima mysharing, Rabu (24/6). Ramadhan kali ini Azzam menjadi salah satu Dai Ambassador Dompet Dhuafa yang berdakwah dengan melintas batas.
Kedatangan para TKI ke Malaysia tak sedikit yang melalui jalur resmi, banyak dari para TKI yang masuk ke Malaysia secara ilegal. Bukan tak mendapatkan masalah mereka hidup secara ilegal di negeri orang, hampir setiap waktu mereka merasa dikejar-kejar petugas imigrasi. Sudah jatuh tertimpa tangga agaknya pas untuk disandingkan dengan kehidupan para TKI di sana. Pekerjaan kasar yang dilakukan sehari-hari masih belum ada apa-apanya. Selama berbulan-bulan bekerja, mereka kerap kali tak mendapatkan upah.
Menurut Azzam, seringkali kontraktor bekerja sama dengan polisi imigrasi untuk menggeledah bedeng-bedeng TKI di tempat bangunan untuk merazia izin visa mereka. “Karena mereka ilegal, akhirnya mereka sampai kabur bersembunyi di hutan agar tidak ditangkap polisi imigrasi,” terang Azzam. Dari keadaan yang seperti itu, Azzam pun mencoba mendengarkan keluhan para TKI ilegal. Baca: Ekonomi Islam Lintas Negara
Dakwah yang Azzam lakukan kini menembus batas ruang kenyamanan. Ia blusukan hingga ke pinggiran Negeri Jiran demi mendengar problematika yang dialami TKI ilegal. Cara yang Azzam lakukan untuk berdakwah cukup unik, yaitu dengan melakukan pendekatan ifthar jama’i, karena di saat itulah para TKI ilegal bisa makan enak.
Jamaah Azzam pun tak hanya para TKI ilegal, Azzam juga berdakwah di komunitas ekspatriat. Dalam dakwahnya di kalangan ekspatriat, ia menggunakan pendekatan kajian subuh. “Mereka sudah harus beraktivitas jam 7 pagi, sementara subuh di Malaysia baru selesai jam 6.15. Di sela-sela waktu itu saya berdakwah,” papar Azzam. Baca: MUI Siapkan Kode Etik Dakwah
Meskipun di tengah-tengah kesibukkan mencari nafkah di negeri orang, para TKI menunjukkan sikap yang baik untuk bersama-sama mencari ilmu dalam dakwah yang dijalani Azzam. “Alhamdulillah antusiasme mereka sangat baik, apalagi ditambah dengan acara buka puasa bersama,” imbuh Azzam.

