Ada empat masa yang mempengaruhi perubahan sejarah Barisan Anshor Serba Guna (Banser). Yang kesemua masa itu bertujuan untuk melindungi dan mempersatukan NKRI.

Pemaparan menarik disampaikan peneliti dari Universitas North Florida, Amerika Serikat, Ronald Lukens Bull, dalam diskusi publik bertajuk ”Nilai Positif Laskar-Laskar Ormas Islam,” di kantor MUI Pusat Jakarta, pada Kamis pekan lalu.
Dengan bahasa Indonesia yang fasih, Ronald pun menjelaskan tentang kiprah Barisan Anshor Serba Guna (Banser) sejak didirikan hingga sekarang. Ronald banyak mengetahui tentang Banser Nahdatul Ulama (NU) ini. Karena ia telah melakukan penelitian selama 15 minggu, dan melakukan wawancara dengan pengurus pusat Banser. Ia juga turun ke DIY, Monosobo, Mojokerto, Surabaya dan melakukan penelitian arsip di Jakarta dan Surabaya.
Menurutnya, sejauh ini ada empat masa yang mempengaruhi perubahan sejarah Banser GP Anshor. Yang pertama, yakni pada tahun 1945, ketika Banser berawal dari Laskar Hizbullah yang mengawal kemerdekaan RI.” Sejak itu, banser telah menanamkan kepentingan negara,” kata Ronald.
Kemudian, lanjutnya, pada tahun 1965, ketika Banser membantu melengserkan ideologi komunis yang diusung gerakan transnasional yaitu Partai Komunis Indonesia (PKI).
Sedangkan fase selanjutnya pada tahun 1984, yakni ketika NU sebagai wadah bernaung Banser kembali khittah dan memutuskan tidak terlibat dalam urusan politik. Dan terakhir, pada tahun 1990-an, saat berlakunya asas tunggal Pancasila. ”Pada masa itu, NU membawa pengertian ”Ketuhanan Yang Maha Esa” (pada sila pertama-red) dengan berbagai jalan, sehingga mengakomodir lima agama yang ada,” ujarnya.
Terkait makalah dan paparan Ronald tentang aktivitas Banser pada era 1965-1967. Dalam paparannya, Ronald menyebutkan, bila Banser memiliki masa lalu berdarah walaupun tindakan pembantaian terhadap pengikut PKI saat itu dipandang perlu dan demi kepentingan negara. Paparan Ronald yang kontroversi itu mendapatkan protes dari Komandan Nasional Banser GP Anshor, Alfa Isnaeni, yang turut hadir pada diskusi tersebut.
Isnaeni mewanti-wanti Ronald agar berhati-hati dan mengambil referensi yang utuh saat menulis tentang kiprah Banser pada periode tahun 1965-1967. ”Dalam kondisi tahun itu yang salah adalah negara. Banser tidak membunuh PKI,” tegas Isnaeni.
Selain soal pembantaian PKI pada era 1965-1967, Isnaeni juga menekankan supaya Banser tidak dilihat sebagai alat pengaman semata. Apalagi, bila Banser hanya dipanjangkan menjadi ”Barisan Serba Guna”, dengan menghilangkan kata Anshornya. ”Barisan Serba Guna dengan Barisan Anshor Serba Guna itu sangat jauh berbeda,” tegas Isnaeni mengingatkan Ronald.
Menurutnya, Banser sebagai alat PAM, hanyalah 30 persen dari jumlah keseluruhan. Di dalam Banser sekarang ini dibentuk beragam satuan seperti Balantas, Balakar, Banser Tanggap Bencana, Kepanduan dan Protokoler. Bahkan terbaru, kata Isnaeni, dibentuk Densus 99 yang dikira orang adalah untuk menyaingi Densus 88.
Lebih lanjut Isnaeni menjelaskan bahwa Banser merupakan bagian dari Gerakan Pemuda Anshor yang merupakan badan otonomi dalam tubuh ormas NU. Dan sebagai Banom, kata Isnaeni, cara pandang Banser tidak lepas dari cara pandang NU. Termasuk cara pandang Banser dan GP Anshor terkait NKRI. ”Soal NKRI, kita sudah selesai. Ini sikap kita, kalau lo punya sikap lain, ya silahkan,” pungkasnya menyoroti sikap adanya kelompok lain yang masih menyoali bentuk negara Indonesia.

