Laba Bank Syariah Bukopin Meningkat 104,9 Persen

[sc name="adsensepostbottom"]

Bank Syariah Bukopin ( BSB) mencatat laba dua kali lipat pada semester satu 2015 yaitu meningkat menjadi 104,9 persen.

lababsbNaiknya laba didorong peningkatnya dana murah (curent account saving account/CASA) dan penurunan biaya dana. ”Laba SBS meningkat 104,9 persen dari Rp 6 miliar pada semester satu 2014 menjadi Rp 12,3 miliar di semester satu 2015,” kata Riyanto kepada MySharing, disela-sela buka bersama media, di Peragu Restoran, Jakarta, pada Kamis pekan lalu.

Riyanto memaparkan, per Juni 2015 aset BSB mencapai Rp 5,2 triliun, bertambah Rp 570 miliar atau tumbuh 12, 28 persen dari Rp 4,6 triliun pada periode yang sama 2014. Pembiayaan juga tumbuh 9,86 persen menjadi Rp 3,8 triliun dari Rp 3,4 triliun di tahun sebelumnya. Dana Pihak Ketiga (DPK) juga menjadi Rp 4 triliun, tumbuh 20,43 persen dari Rp 3,3 triliun.

Adapun kecukupan modal (CAR) menjadi 14,3 persen dari 10,7 persen pada semester satu 2014. Rasio pembiayaan bermasalah (NPF) gross 4,4 persen dan rasio pembiayaan (FDR) 93,2 persen.

Riyanto menegaskan, bahwa posisi laba rugi BSB menggembirakan. Selain karena peningkatan CASA dan ekspansi, biaya dana deposito yang turun juga membantu. Seperti halnya, dalam tiga awal 2015 dari biaya dana awalnya setara 10-11 persen kini menjadi 9-9,5 persen. “Diharapkan ini bisa jalan terus sampai akhir 2015. Meski ada kekhawatiran kondisi ekonomi dan sektor riil melambat,” ujarnya.

Menurutnya, dampak perlambatan terasa sekali yang terlihat dari turunnya pembiayaan. Diharapkan di tengah situasi global dan nasional yang tengah terjadi bisnis perbankan bisa membaik. Dengan situasi yang ada, BSB meningkatkan kehat-hatian, selektif pembiayaan dan tidak seagresif sebelumnya. Apalagi, kata Riyanto, sektor riil melambat dan beberapa bisnis seperti batu bara dan pembiayaan kendaraan juga mulai bermasalah.

Revisi rencana bisnis juga sudah dilakikan untuk mengantisipasi kondisi global dan nasional yang masih belum jelas efeknya. ”Harus konservatif, laba rugi tidak direvisi, tapi ekspansi ditahan,” ujarnya.

Kembali ia menjelaskan, hingga akhir tahun, BSB memproyeksikan DPK tumbuh 20-30 persen menjadi Rp 4,2 triliun dan CASA terjaga di sekitar 20 persen. Sedangkan untuk nasabah, BSB masih fokus pada nasabah outstanding. Adapun target nasabah sama dengan volume DPK sekitar 20-30 persen.

Pembiayaan BSB fokus pada sektor pendidikan, kesehatan, perdagangan, properti, transportasi dan jasa keuangan yang sekarang sedang direm oleh BSB karena sedang melambat. Adapun 60 persen pembiayaan produktif, menurut Riyanto, ditujukan untuk usaha mikro dan UKM, sisanya merupakan pembiayaan komersial.”Usaha mikro dan UKM tidak bisa berdiri sendiri dan harus disokong komersial,” tukasnya.