Bantu Siswa Korban Sinabung, Tupperware Dirikan Sekolah Temporer

[sc name="adsensepostbottom"]

Untuk memperlancar kegiatan belajar mengajar, Tupperware Indonesia bekerjasama dengan ACT membangun sekolah temporer bagi para siswa korban erupsi Gunung Sinabung.

tupperware-sekolah-sementara-untuk-sinabung-2015_300Erupsi Gunung Sinabung tak hanya meluluhlantakkan lahan pertanian dan rumah tinggal milik masyarakat. Gedung sekolah pun turut hancur karena bencana tersebut. Bangunan sekolah, yang ditujukan bagi 450 siswa Sekolah Dasar Negeri (SDN) 040485 dan 040486, dibangun dengan warna dominan pink dan berkonsep sementara, sehingga disebut Temporary School Integrated. Sekolah tersebut pun telah diresmikan oleh Bupati Kabupaten Tana Karo, Terkelin Brahmana, akhir pekan lalu, di Jalan Kabanjehe, Kutabuluh, Desa Payung, Kecamatan Payung, Kabupaten Karo, Sumatera Utara.

Public Relation Tupperware Armytati Hanum Kasminto, mengatakan pembangunan gedung sekolah ini merupakan Program Cause Related MarketingTupperware yang dilakukan satu tahun sekali. “Program tahun lalu kami membelikan ambulans, untuk tahun ini bersama ACT membangun sekolah untuk pengungsi Sinabung,” jelas Armytati, dilansir dari laman resmi ACT, Selasa (11/8). Baca: Kedermawanan Menurut Islam

Sementara, Direktur Marketing Tupperware Nurlaila Hidayati, berharap melalui pembangunan sekolah tersebut, anak-anak pengungsi lebih semangat lagi dalam melakukan kegiatan belajar. “Saya dengar dulu belajarnya menumpang di sekolah lain, mudah-mudahan sekarang belajarnya lebih berkualitas, setelah menempati bangunan sekolah sendiri,” ujar Nurlaila. Baca Juga: Abrar Shahin, Pelajar Terbaik New Jersey Karena Hijabnya

Bupati Karo, Terkelin Brahmana pun mengungkapkan apresiasinya kepada ACT dan Tupperware. Menurutnya, pembangunan sekolah untuk pengungsi ini sangat berarti bagi siswa-siswi korban Sinabung. “Kami mewakili Masyarakat Tana Karo mengucapkan terimakasih kepada ACT dan Tupperware yang telah membangun sekolah ini. Kami sangat berharap perhatian ACT dan Tupperware tidak hanya sampai disini saja. Karena masih banyak anak sekolah pengungsian yang sekolahnya tidak bisa digunakan,” pungkas Terkelin.