Papua adalah wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang seharusnya bangga dengan bangsanya. Namun nyatanya, merah putih tak berkibar di Tolikara, Papua.

Ustad Faroji menuturkan, setelah peristiwa Tolikara 17 Juli 2015 yang menyerang umat Muslim pada saat shalat Idul Fitri 1436 Hijriyah, dirinya dengan para ulama langsung bergerak dengan membentuk Aliansi Alim Ulama Indonesia.
“Saat itu pula, kami mengutuk keras terjadinya insiden pembakaran masjid di Tolikara,” kata Faroji, dalam dialog HTI dan Insan Media bertajuk “Tolikara, Sebuah Agenda Dibalik Berita,” di Warunkomando, Jakarta, Kamis (13/8).
Tanggal 19 Juli 2015, Faroji bersama tim pencari fakta lainnya terbang dari Jakarta ke Tolikara, Papua. Terlebih dulu transit di Bali, kemudian lanjut ke Jayapura. Dari Jayapura, mereka pun naik pesawat kecil bernama “Amma” milik misionaris.
Kok bisa terbang dengan pesawat milik misionaris?Itulah pertanyaan dalam hati Ustad Faroji, dalam perjalanannya dari Jayapura ke Tolikara. Ia pun akhirnya meneliti, ternyata pesawat terbang itu tidak memiliki izin dari departemen perhubungan. Ini satu hal yang membuat tim pencari fakta heran kok ya kenapa departemen perhubungan tidak ada di Tolikara. “Sebenarnya NKRI ada nggak disana?Itu pertanyaan pertama,” kata Ustad Faroji.
Lebih ngiris lagi, ungkapnya, ketika menginjakkan kaki di Tolikara, terlihat banyak bendera-bendera Israel. Faroji pun bertanya kepada warga disana, “apakah ada yang punya bendera merah putih?”. Mereka menjawab tidak ada yang punya. Pertanyaan kemudian lebih menguat lagi dalam hati Faroji yakni “Kemana NKRI, kemana Merah Putih?.”
Bahkan, lanjutnya, warga diwajibkan mengecat rumah bergambar bendera Israel. Jika tidak menuruti akan dikenakan denda sebesar Rp 500 ribu setiap bulannya. Peraturan ini dikeluarkan oleh Bupati Tolikara yang diberlakukan bagi semua warga Tolikara. Bahkan, masjid-masjid juga diharuskan dicat dengan gambar bendera Israel. sedangkan gereja cukup dengan cat warna merah. “Ini sangat ngiris karena ada negara dalam negara?Yang perlu dipertanyakan kemana pemerintah RI?Apakah pemerintah tahu kondisi Tolikara yang tanpa merah putih?,” tukas Faroji.
Faroji bersama tim pencari fakta lain dari Kementerian Agama RI pun kembali bertanya terkait kantor departemen agama di Tolikara. Ternyata kantor itu tidak ada. Karyawannya ada, tapi kantornya tidak punya.
Akhirnya tim pencari fakta pun bertanya tentang status tanah di sana. Ternyata tanah disana semuanya dianggap milik Gereja Inji di Indonesia (GIDI). “GIDI adalah kelompok sekelompok Kristen Zionis yang sangat radikal. Dari 28 Kabupaten di Papua, GIDI sudah menguasa 100 persen 4 Kabupaten, yaitu Tolikara, Lanijaya, Duga dan Yalima. Jadi 4 Kabupaten itu 100 persen tanahnya dikuasi GIDI,” papar Faroji.
Fakta lain yang ditemukan, lanjutnya, adalah Umat Islam di Tolikara yang di berbagai media massa ditulis berjumlah 200 orang, tapi setelah dicek langsung di lapangan ternyata ada 1200 orang.
Nyatanya, kata dia, setiap hari tim pencari fakta banyak menemukan fakta yang tidak sesuai dengan informasi yang disuarakan oleh GIDI. Pemerintahaan di sana, adalah GIDI semua mulai dari Bupati, Wakil Bupati dan anggota DPR-nya adalah GIDI. Bahkan partai-partai Islam (PPP, PKB, PAN , PKS, dan lainnya) isinya adalah anggota GIDI.
GIDI sangat berkuasa, mereka mengganggap bahwa semua orang selain Islam yang ada di Tolikara adalah anggota GIDI. Mereka juga membuat peraturan bahwa umat Islam shalatnya di lapangan halaman koramil. Masjid-masjid juga hanya bisa dibangun di koramil, jadi kalau ada koramil pasti ada masjid. Pada hari minggu, umat Islam tidak boleh berdagang karena hari itu adalah hari besar umat Kristen.
Bahkan, tegas Faroji, sebenarnya seminar dan KKR international GIDI yang akan digelar di Kabupaten Tolikara itu adalah pada tanggal 22 Juli 2015, bukan tanggal 17 Juli. Tapi mengapa kemudian dimajukan, ada persoalan apa, ini yang perlu dipertanyakan?
Dan terjadinya insiden itu sebenarnya sudah disiapkan oleh kelompok Kristen GIDI. Dengan mengajak pemuda-pemuda GIDI dari bebarapa daerah di luar Tolikara. Selain membawa batu, mereka membawa bom molotop, parang dan senjata tajam. ”Mereka melempar masjid dengan bom molotop ketika umat Islam takbir pertama, dan berteriak menghujat “anjing babi” pada umat Islam. Bahkan Kapolres juga dipukuli,” ujarnya.
Kemudian, lanjut dia, ketika ada peringatan dari polisi, mereka itu semakin liar dengan melempar bom molotop ke masjid. Namun karena bangunan masjid kokoh, bom itu mental dan mengena kios yang berada dekat masjid tersebut. Kios itu menjual bensin, yang akhirnya terbakar hingga menjalar ke bangunan lainnya. Ini, kata Faroji, fakta yang kami temukan dari penjual bensin kios tersebut. Karena penjual itu tidak shalat sedang datang bulan, dia melihat kelompok pemuda GIDI itu melempar bom molotop ke masjid, tapi mental ke kios.
“Jadi yang dilempar bom itu masjid, bukan kios. Pelaku pemuda GIDI yang bukan asli Tolikara, sebanyak 200 orang. Tapi propokatornya warga Tolikara yang berprofesi pegawai bank yang sudah ditangkap itu,” pungkasnya.

