PT Bank Danamon Indonesia, Tbk. (Danamon) hari ini memperkenalkan para pejuang sosial entrepreneur yang telah berhasil meraih Danamon Social Entrepreneur Awards (DSEA) 2015.

Mereka berhasil menyisihkan sekitar 400-an peserta DSEA 2015, setelah melewati proses seleksi yang ketat serta mekanisme penjurian dengan menggunakan empat kriteria penilaian, yaitu Motif (Ide Awal), Outcome (Hasil), Outreach (Dampak), Sustainability (Komitmen).
Berikut profil masing-masing pemenang DSEA 2015 dari Danamon sebagai berikut:
Ahmed Tessario (Pengembang Teknologi Desa). Pada tahun 2012. Ahmed Tessario menggarap lahan seluas 11 Ha yang meliputi 3 kecamatan dan di kelola oleh 24 orang petani dimana hasil produksi rata – rata sebanyak 4,4 ton/Ha. Usaha ini berhasil swadaya serta berkembang di 7 kecamatan di Banyuwangi. Produk beras organik yang dihasilkan adalah : beras merah organik, beras putih organik, beras coklat organik, beras merah putih organik dan beras hitam organic, dengan omset penjualan pada 2015 mencapai Rp. 1.758.386.500,- Keuntungan yang didapatkan oleh petani yaitu peningkatan pendapatan dari hasil jual panen yang lebih tinggi dan juga ilmu pengetahuan pertanian yang mereka dapat.
Fajri Mulya Iresha (Memberdayakan Para pemulung dan Kaum Marjinal Dalam Usaha Zero Waste Indonesia). Pemikiran Fajri tentang sampah yang mempunyai nilai ekonomis kalau bisa di kelola dengan baik sebagai latar belakang dibentuknya kegiatan Zero Waste Indonesia. Dimulai dengan mengedukasi masyarakat dalam mengumpulkan sampah organik dan non organik kemudian membina bank sampah di sekitaran wilayah Depok, serta kepedulian Fajri terhadap pemulung dan kaum marjinal untuk turut serta dalam perberdayaan ini. Zero Waste Indonesia berhasil menanamkan kepedulian dan kesadaran warga untuk mengolah dan memilih sampah di rumah tangga. Omzet yang didapat dari usaha CV. Zero Waste Indonesia mencapai 200 juta perbulan dengan kapasitas produksi 1 ton setiap hari.
Ni Kadek Eka Citrawati (Mendirikan Usaha Lulur Bali Alus). Berawal dari hobi dan keinginan untuk menjalani filosofi ”kembali ke alam”, tahun 2000, Kadek menciptakan lulur Bali alus dengan mengembangkan kembali budaya warisan leluhur yang didukung oleh kecanggihan teknologi dan berbekal ilmu informal S1 Design and Beauty Clinic. Kadek juga ingin mempopulerkan bahan-bahan tradisional untuk perawatan tubuh sehingga dapat membantu peningkatan ekonomi warga sekitar. Dari modal awal 30 Juta rupiah kini omset pendapatan dari bali halus ini sudah mencapai 15 jt per hari dengan Total produksi sudah mencapai 400 macam jenis produk dari 150 item yang di produksi.
Putu Gede Asnawa Dikta (Mengembangkan Agro Techno Park Salak Sebagai Media Pemberdayaan Masyarakat Petani Salak Desa Sibetan). Putu Gede Asnawa Dikta, Pemuda berusia 21 tahun ini melihat potensi yang besar menjadikan desa Sibetan sebagai desa Wisata Argo Park Salak, disamping itu keprihatinan Dikta dengan kondisi perekonomian petani yang masih tergolong miskin karena saat musim panen raya harga salak anjlok dan petani dirugikan. Kelompok warga abian wisata yang diketuai oleh Dikta mengembangkan desa Sibetan sebagai area tujuan wisata baru dengan membangun area kebun salak yang luas sekitar kurang lebih 1 ha sebagai projek contoh dari total luas 40 ha ladang salak di kabupaten Karangasem Bali Desa wisata Sibetan yang menawarkan destinasi wisata agro wisata salak.
Yayah Muslihah (Mendirikan Kerajinan Bulu Mata). Yayah Muslihah seorang ibu rumah tangga biasa, pada tahun 2012 Yayah mencoba mencari tambahan penghasilan untuk menjadi pengrajin bulu mata palsu dari pengepul biasa ke perusahaan pengrajin bulu mata yang ada di Kabupaten Purbalingga. Berkat keseriusan Yayah serta keuletannya disaat menjadi pengepul pengrajin bulu mata tersebut, Pimpinan dari PT. Interwork Indonesia menawarkan Yayah Muslihah untuk bekerja sama menjadi Mitra dalam mengerjakan bulu mata dari awal proses pengerjaan hingga finishing. “Yayah Eyeleases” mempunyai 6 orang karyawan tetap yang bekerja di rumahnya. 4 orang tenaga lepasan pengepul dengan setiap pengepul terdiri kurang-lebih 20 orang yang beranggotanya kebanyakan Ibu-Ibu rumah tangga dan memperdayakan janda-janda diberbagai titik lokasi di desa.

