Majelis Ulama Indonesia (MUI) menilai Indonesia masih perlu meningkatkan promosi wisata halal. Pemerintah pun jangan malu-malu untuk menyatakan diri menjadi Muslim Freindly Destinantion.

”Kekuatan itu ada di promosi. Artinya perlu ada tambahan sumber daya manusia dalam memperkuat promosi itu,” kata Lukman kepada MySharing, ditemui di kantor MUI Pusat, Jakarta, Selasa (27/10).
Lukman menuturkan, Indonesia masih kalah dengan Malaysia dalam segi promosi wisata halal. Indonesia cenderung masih malu-malu untuk menampilkan wisata halal pada dunia.
”Indonesia harus berani menyatakan diri menjadi Muslim freindly destination. Tampilan di Worlds Halal Travel Awards 2015 di Dubai pekan lalu, sangat luar biasa apresiasinya, harus terus berusaha agar dikenal dunia,” kata Lukman yang juga menjabat sebagai Direktur LPPOM MUI ini.
Anggaran promosi Indonesia, kata Lukman, jika dibandingkan dengan Malaysia berbanding jauh. Menurutnya, Indonesia dengan luas wilayah yang lebih besar hanya menganggarkan setengah dari jumlah anggaran promosi wisata Malaysia.
“Jika pemerintah sudah sepakat mendukung peningkatan wisata halal, seharusnya mengerahkan seluruh kekuatan promosi dan menyuntikan dana. Maka dipastikan hasilnya akan lebih maksimal, tidak setengah-setengah,” ujarnya.
Ia menyampaikan, apalagi menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif terdahulu yaitu Mari Elka Pangestu pernah menyatakan bahwa wisata syariah di Indonesia sangat berpontensi meningaktkan pembangunan ekonomi nasional. Maka, seharusnya pemerintahan selanjutnya mendukung meningkatkan pengembangkan program tersebut. .
“Karena nyatanya memang benar, wisata halal sangat berpotensi memberikan devisa negara dan wisata halal ini diterima oleh dunia international. Buktinya, Singapura, Malaysia, Thalinda, Jepang, Belanda, Inggris dan negara lainnya berlomba kembangkan wisata halal,” pungkasnya.

