Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang fokus terhadap pendidikan dan pembinaan 24 jam, baik formal ataupun informal. Bahkan, dewasa ini pesantren tidak hanya identik dengan rutinitas ibadah, tetapi juga dapat bersaing dalam sains dengan sekolah formal lain.

Namun di saat yang sama juga harus memenuhi kebutuhan-kebutuhan ummat pada zamannya, sehingga akan lebih siap jika suatu ketika dilepas perjalanannya. “Seperti saat Lirboyo melahirkan pesantren-pesantren anak cucunya seperti Tebu Ireng dan Krapyak, itu menjadi sebuah basis yang patut dijaga untuk harus terus melahirkan kader-kader ulama,” kata Bachtiar, dalam siaran pers yang diterima mysharing, Rabu (2/12).
Dengan adanya regenerasi, lanjut Bachtiar, para dai dan ulama pun bisa terus mensyiarkan agama. “Semakin banyaknya guru menyampaikan dakwah, tentu juga akan mengurangi distorsi pengertian dari dinamika terkait Islam yang terjadi di masyarakat,” katanya. Baca: MUI akan Sertifikat Da’i
- KNEKS dan Atsiri Research Center Universitas Syiah Kuala bekerja sama Mengembangkan Hilirisasi Bahan Baku Halal berbasis Minyak Nilam
- Bank Muamalat Catat Kenaikan Jumlah Transaksi Top Up Kartu Uang Elektronik Hingga 180,52%
- Asosiasi DPLK dan DPLK Syariah Muamalat Inisiasi Sinergi Ekosistem Syariah bagi Sektor Informal
- Bank Muamalat Sukses Raih Dua Penghargaan di Ajang TOP GRC Awards 2026
Ia menyontohkan seperti bergulirnya perbincangan tentang Syiah, ISIS, Wahabi dan lain-lainnya, yang menjadi trending topic sekarang ini. “Di situlah peran ulama dan orang-orang pesantren dibutuhkan untuk meluruskan dan menundukkan persoalan ini. Karena jika tidak teratasi, itu berpotensi untuk menimbulkan perpecahan yang sangat sadis,” ujar Bachtiar.

