
Pameran itu menampilkan produk furnitur dan dekorasi rumah yang diikuti oleh ratusan peserta dan ditargetkan dihadiri 5.000 an buyers dari berbagai negara. IFEX 2014 berlangsung dengan menampilkan berbagai pilihan mebel kayu, rotan, dan mebel bambu untuk ruang tamu, ruang keluarga, serta untuk anak-anak.
IFEX diharapkan dapat mendorong tumbuhnya inovasi dan kreativitas produsen mebel dan kerajinan nasional sehingga menghasilkan produk unggulan yang memiliki nilai tambah dan menjadi market leader di pasar global.
“Diharapkan dapat menciptakan peluang bisnis,” ungkap Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag, Nus Nuzulia Ishak, dalam siaran pers.
Kementerian Perdagangan berpartisipasi melalui paviliun Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (Ditjen PEN) mengusung tema “Trade with Remarkable Indonesia”, di area seluas 200 m2 yang berlokasi di Hall B No. B034 dan B035. Kemendag menampilkan 15 perusahaan furnitur dan dekorasi rumah Indonesia. Misalnya, furnitur berbahan baku daur ulang kertas koran, limbah mebel, kayu mahoni, kombinasi anyaman, serta dekorasi rumah seperti lampu dan kerajinan dari limbah organik bonggol jagung.
Nus menjelaskan, tema itu mencerminkan kekayaan dan keanekaragaman produk furnitur dan kerajinan tangan yang berasal dari berbagai bahan dasar dan daerah di Indonesia. Keanekaragaman produk furnitur dan kerajinan Indonesia yang dimaksud memiliki keunggulan komparatif dari segi desain yang unik serta dilengkapi dengan sertifikat Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK), yang memadai agar dapat bersaing di pasar global yang bergerak ke arah “environmental-friendly and trade sustainability”.
Direktur Pengembangan Promosi dan Citra Ditjen PEN Kemendag, Pradnyawati mengatakan, partisipasi Kemendag adalah untuk meningkatkan citra produk furnitur dan dekorasi rumah Indonesia di kancah internasional.
Kemendag merilis, Pada tahun 2013, total ekspor produk hasil hutan Indonesia mencapai USD 8,9 miliar yang meningkat 3,51% dibanding tahun sebelumnya. Total nilai ekspor produk hasil hutan Indonesia pada periode 2009-2013 mengalami tren positif sebesar 6,55%. Ekspor furnitur kayu pada tahun 2013 mencapai USD 1,2 miliar, dengan negara tujuan ekspor utama Amerika Serikat, Jepang, Perancis, dan Inggris. Untuk produk furnitur rotan, nilai ekspornya tahun 2013 mencapai USD 219,8 juta dan mengalami tren positif sebesar2,18% pada lima tahun terakhir. Negara tujuan ekspor utama produk furnitur rotan Indonesia adalah Amerika Serikat, Jepang, Jerman, dan Inggris. Tren positif juga dialami ekspor produk kerajinan sebesar 4,61% pada periode 2009 – 2013. Nilai ekspor produk kerajinan Indonesia pada tahun 2013 mencapai USD 669,1 juta, dengan negara tujuan ekspor utama Amerika Serikat, Jepang, Inggris, Jerman, dan Hongkong.

