Sinta Nuriyah Wahid, istri mantan presiden Abdurrahman Wahid, adalah sosok perempuan yang gigih menyuarakan hak kaum perempuan. Sinta pun mendirikan yayasan “Puan Alam Hayati,” sebagai wadah untuk mengali potensi perempuan agar bangkit dari keterpurukan.

Sinta pun berbagi membagi pemikiran dan pandangan, mengenai konsidi perempuan, posisi perempuan di bidang politik dan poligami. Dalam pandangan Sinta, perempuan adalah tokoh sentral dalam kehidupan manusia, memikil beban berat melahirkan dan mendidik anak manusia. “Perempuam adalah sekolah pertama untuk anak manusia, mulai dari mengajarkan makan, berjalan sampai dia menjadi manusia seutuhnya,” tegas Sinta.
Tapi dalam kenyataannya, lanjut dia, banyak perempuan yang masih terpuruk. Sinta pun merasa prihatin dengan hal itu. Karena wanita kerap dianggap orang bodoh karena memang dibodohkan. Tidak boleh sekolah, jadi tidak boleh pintar karena akan jadi lawan laki-laki.
Terkait pembodohan tersebut, Sinta pun tergerak hatinya mendirikan yayasan “Puan Alam Hayati (pesantren pemberdayaan wanita). “Potensi perempuan sangat besar sekali, maka saya dirikan yayasan ini, sebagai bentuk perlawanan terhadap banyaknya kasus subordinasi dan marginalisasi kepada perempuan,” tukasnya.
Lebih lanjut Sinta menyampaikan, yayasan ini merupakan misi menegakkan keadilan bagi perempuan. Karena perempuan belum berhasil menegakkan harkat dan martabatnya kembali untuk menjadi hebat. Maka, potensi perempuan harus dikembalikan.
“Perjuangan tidak mengenal batas usia, makanya sampai sekarang saya masih berjuang untuk perempuan. Jangan pernah minder karena yang membedakan perempuan dengan laki-laki itu hanya haid, hamil, melahirkan, menyusui, dan menopause,” ungkap Sinta.
Menurutnya, seorang ibu itu sosok yang kuat dan pintar. Tetapi, dalam kehidupan masyarakat, perempuan selalu dinomorduakan. Terbelakang dan tidak punya peran apa-apa. Dalam bahasa Jawa, kata Sinta, disebut “konco wingking,” karena hanya diberi kesempatan mengurus rumah tangga tanpa pernah diajak bernegara.
“Saya mencoba memberikan harapan pada perempuan-perempuan yang tidak pernah mendapatkan haknya. Karena perempuan masih banyak yang terpuruk dengan banyak kasus,” ujar Sinta.
Sinta pun mencontohkan, seperti kekerasan di tempat kerja. Menurutnya, meskipun beban pekerjaaan sama dengan laki-laki, tapi gaji mereka dibedakan. Perempuan dianggap kurang produktif karena sering meminta izin saat menstruasi dan melahirkan. Perempuan bekerja hanya dianggap sebagai pelengkap suami, dalam membantu kebutuhan hidup.
Selain itu, lanjut dia, banyak perempuan yang harus berjuang mencari sesuap nasi di negara lain dan mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari majikan yakni disiksa. “Seperti pengalaman saya waktu mendampingi bapak (almarhum Abdurrahman Wahid) di Arab, saya kumpulkan semua TKI yang ada di sana baik yang berhasil dan tidak,” kata Sinta.
Dalam pertemuan dengan para TKI itu, hati Sinta teriris prihatin melihat kondisi mereka dan mendengar kisah yang dialaminya. Ada yang tangannya patah dan kaki cacat. Ada seorang anak kecil naik taksi ditendang diturunkan dipinggir jalan.Bahkan ada yang seorang perempuan disetrika sekujur tubuhnya hingga telingga lengket dengan kepalanya. Kemudian dicungkil keempat giginya menggunakan gunting. Setelah itu disuruh makan nasi hanya dalam beberapa menit. Karena tidak ada giginya, jadi dia tidak mampu menyelesaikan makannya kemudian bibir kiri-kanannya digunting.
“Nah, itulah kesengsaran yang diterima perempuan. Padahal, kalau dia punya uang dikirim ke Indonesia dan dipakai suami untuk cari istri lagi. Jadi, saya mencoba mewadahi mereka semua untuk keluar dari keterpurukan yang mereka alami selama ini. Saya berharap ” ungkap Sinta.
Terkait dicanangkannya hari anti kekerasan terhadap perempuan, Sinta berharap dapat lebih ditingkatkan agar semua sadar dan peduli tentang nasib perempuan-perempuan Indonesia yang masih terpuruk.

