Pembangunan karakter bangsa harus dari lingkungan terkecil, yakni keluarga, masyarakat dan lingkungan kerja.

Menurutnya, ada tiga nilai yang harus dibangun dalam revolusi mental, yaitu intergitas, etos kerja dan gotong royong. Integritas, kata dia, mengambil peranan penting dalam sebuah pembangunan karakter bangsa. Oleh sebab itu, di setiap pelantikan pejabat ada penanda tanganan fakta integritas, bukan fakta kejujuran.
”Jujur saja tidak cukup, tetapi harus berintegritas. Jujur per definisi is telling the truth to others. Jadi bicara kebenaran kepada orang lain, sementara integrity is telling the truth to ourself,” tegas Agus.
Kembali Agus menegaskan, bahwa pembangunan karakter bangsa dapat dilakukan melalui beberapa media, misalnya. Pertama, keluarga merupakan tempat yang sangat ideal untuk mengembangkan karakter seseorang karena sejak usia dini orang tua sudah dapat mengajarkan kedisiplinan kepada anaknya dengan membiasakan bangun pagi secara terus menerus hingga terbentuk karakter disiplin bangun pagi.
Kebersihan juga bisa diajarkan oleh orang tua kepada anaknya untuk tidak membuang sampah sembarangan. Jika hal ini diajarkan secara berkesinambungan, maka akan membentuk karakter terbiasa hidup bersih dan disiplin sehingga tercapai pola hidup yang diinginkan (sense of harmony).
”Saudara-saudara bisa bayangkan, apabila setiap keluarga mempunyai pola pendidikan karakter yang tepat. Maka akan terlahir masyarakat yang berkualitas dengan karakter yang baik. Karena masyarakat pada dasarnya merupakan perkumpulan dari beberapa keluarga,” papar Agus.
Kedua, lanjut dia, adalah melalui satuan pendidikan, baik formal maupun non formal. Sekolah merupakan tempat di mana peserta didik belajar mematuhi peraturan-peraturan sederhana untuk dilaksanakan. Ini semua perlu dilakukan oleh para pendidik dalam rangka memberikan keteladanan kepada mereka.
Selain kedisiplinan, dunia pendidikan baik formal maupun non formal juga dapat membentuk karakter integritas bagi peserta didiknya dengan cara untuk tidak menyontek dalam mengerjakan ujian. Terpenting lagi juga tidak melakukan plagiarisme di dalam menulis karya-karya ilmiahnya.
Dengan demikian, menurutnya, maka tidak boleh terjadi, hanya karena mengharapkan menjadi seorang guru besar, lalu seorang dosen melakukan plagiarisme untuk mengejar jabatan akademiknya. Agus pun mengingatkan bahwa pendidikan adalah suatu proses pembudayaan dalam rangka membentuk karakter. Dan keteladanaan merupakan sebuah keharusan dalam membentuk karakter bangsa. Sejarah mencatat bagaimana tokoh agama mewarnai perjalanan bangsa Indonesia.
Menurutnya, keberhasilan revolusi mental dalam rangka pembangunan karakter ditandai dengan tercapainya sasaran. Pertama, terwujudnya karakter bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia dan bermoral berbudi luhur, toleransi, tangguh, kompetitif, berjiwa patriotik, gotong royong, berkembang dinamis dan berorientasi iptek. Kedua, budaya bangsa yang tercermin dalam meningkatnya peradaban, harkat dan martabat manusia Indonesia, serta menguatkan jati diri dan kepribadian bangsa.
Agus menjelaskan revolusi mental dalam rangka pembangunan karakter bangsa merupakan necessary condition agar bangsa ini mampu melakukan lompatan. Benar adanya, if welth is lost, nothing is lost. If health is lost, we lose something; but if character which is integrity is lost, we lost everthing.
“Tugas kita semua untuk membangun habituasi nilai-nilai positif sehingga terbentuk karakter yang kuat. Mari kita mulai dari lingkungan terkecil, keluarga kita masing-masing, di masyarakat dan lingkungan kerja,” tutup Agus.

