Inflasi tidak hanya dipengaruhi oleh sektor makanan, tapi juga biaya kesehatan yang mahal.

Menurutnya, jika pemerintah bisa menjaga suplai makanan secara tepat dan bisa memperbaiki distribusi barang dengan baik, inflansi kita rendah.
“Jika bicara inflansi dari kepasitas ekonomi, Indonesia masih jauh. Ini dicerminkan dari inflasi inti di bulan Februari 2016 yang sebesar 3,6 persen. Selain makanan, sektor yang menyumbang inflasi yang besar adalah kesehatan sebesar 5 persen,” kata Destry, pada seminar Prudential : Ulasan Pasar 2015 dan Market Outlook 2016 di Hotel Shangrila, Jakarta, Senin (14/3).
Menurut Destry, biaya kesehatan di Indonesia termasuk mahal. Ini tercermin dari harga obat dan biaya rumah sakit. Sehingga dampaknya pemerintah pun harus menaikan premi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.
Oleh karena itu, tegas dia, salah satu solusi pemerintah dengan membuka Data Negatif Investment (DNI), membuka aturan impor terhadap obat-obatan. Menurunkan biaya impor obat-obatan, kata dia, dalam rangka mengendalikan inflasi secara total.
“Saya rasa memang kalau kita lihat kesehatan dengan penduduk income per kapita masyarakat makin bagus, kebutuhan kesehatan makin tinggi. Jadi ini pemerintah bagaimana menekan biaya kesehatan untuk kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya.

