Hari Air Sedunia yang jatuh setiap tanggal 22 Maret senantiasa mengingatkan pentingnya air bagi kehidupan.

Manager Program Semesta Hijau Dompet Dhuafa Syamsul Ardiansyah mengatakan, momen yang sama juga mengingatkan terjadinya krisis air, termasuk di Indonesia. “Indonesia adalah negara ketujuh yang memiliki cadangan terbesar air tawar terbarukan di dunia dengan volume yang mencapai 2,019 km kubik per tahun. Namun, kawasan Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara sudah mengalami defisit air. Baik karena cadangan air yang berkurang, akibat perubahan tata guna lahan, maupun karena perubahan demografis akibat urbanisasi,” katanya dalam siaran pers yang diterima MySharing, Kamis (24/3).
Secara nasional, hingga tahun 2015 lalu, baru 22 persen masyarakat yang terlayani sambungan air bersih melalui pipa dan 20 persen masyarakat masih buang air besar sembarangan. Tantangan pemenuhan hak atas air bersih dan sanitasi layak pun masih cukup besar.
Ia menambahkan pengelolaan air memang berada di tangan pemerintah. Namun, masyarakat juga dapat mengambil inisiatif ambil bagian dalam pengelolaan air dengan skema investasi sosial. Salah satu strategi yang mungkin bisa dikembangkan adalah mendorong peran aktif lembaga-lembaga pengelola dana dan aset umat seperti lembaga zakat untuk turut mengisi bolong-bolong pembiayaan dalam hal pemenuhan akses air bersih dan sanitasi.
“Dengan potensi dana zakat yang mencapai Rp 123 hingga Rp 217 triliun, dengan mengoptimalkan penghimpunan dan menekankan efektivitas dalam pendayagunaan serta memperkuat dimensi pemberdayaan, kekuatan ekonomi zakat dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap pengentasan kemiskinan yang akan memberi jalan bagi perbaikan akses terhadap air bersih dan sanitasi,” paparnya.
Bentuk investasi sosial yang dilakukan Dompet Dhuafa adalah melalui program Air untuk Kehidupan. Program ini bertujuan untuk memberikan kemudahan akses air bersih untuk dhuafa di daerah krisis air. Program yang dimulai pada 2008 ini berada di lima belas titik yang tersebar dari Sumatera hingga Sulawesi dan Nusa Tenggara Timur.
Ada empat macam model dalam program ini yaitu pipanisasi, pengeboran, penampungan air hujan, dan penyaringan dan desalinasi. Hingga kini sudah ada lebih dari 39.000 yang menjadi penerima manfaat dari program Air untuk Kehidupan.

