(Ki-ka): Direktur Keuangan OCBC NISP Hartati, Presiden Direktur OCNC NSIP Purwanti Surjuadaja, dan Direktur Kepatuhan OCBC NISP Rama Pratama Kusumaputra dalam konferensi pers kinerja OCBC NISP di Jakarta, Kamis (7/4). Foto: MySharing.

Inilah Langkah OCBC NISP Antisipasi Menipisnya NIM

[sc name="adsensepostbottom"]

 Antisipasi minusnya bunga bersih atau net interest margin (NIM), bank OCBC NISP upayakan beberapa langka. Apa saja?

(Ki-ka): Direktur Keuangan OCBC NISP Hartati, Presiden Direktur OCNC NSIP Purwanti Surjuadaja, dan Direktur Kepatuhan OCBC NISP Rama Pratama Kusumaputra dalam konferensi pers kinerja OCBC NISP di Jakarta, Kamis (7/4). Foto: MySharing.
(Ki-ka): Direktur Keuangan OCBC NISP Hartati, Presiden Direktur OCNC NSIP Purwanti Surjuadaja, dan Direktur Kepatuhan OCBC NISP Rama Pratama Kusumaputra dalam konferensi pers kinerja OCBC NISP di Jakarta, Kamis (7/4). Foto: MySharing.

Presiden Direktur Bank OCBC NISP Parwati Surjaudaja mengatakan, perseroan berupaya mengantisipasi menipisnya margin bunga bersih atau net interest margin (NIM), seiring kebijakan pemerintah yang menginginkan suku bunga kredit perbankan menjadi single digit di akhir tahun 2016 ini.

Untuk menjaga pemasukan bank ketika pendapatan bunga mulai terpangkas, OCBC NISP memiliki beberapa langkah. “Pertama, kami memang akan meningkatkan pendapatan non bunga,” kata Parwati dalam konferensi pers di Jakarta, pekan lalu.

Lebih lanjut dia menjelaskan, sepanjang tahun 2015 perseroan mencatat pendapatan bunga bersih senilai Rp 4,41 triliun atau tumbuh sebesar 18 persen secara ( year to year).

Sedangkan pendapatan selain bunga yang berhasil didapat perseroan mencatatkan pertumbuhan sebesar 15 persen  dari Rp 743 miliar menjadi Rp 854 miliar.

Adapun pendapatan non bunga atau fee based income (FBI) emiten dengan kode saham NISP ini didominasi oleh pendapatan berbasis komisi yang berasal dari kredit sebesar 23 persen, diikuti oleh trade finance sebesar 17 persen dan keuntungan dari penjualan instrumen keuangan serta bancassurance sebesar 10 persen.

Selain itu, lanjut Parwati, pihaknya bakal menjaga struktur pendanaan dengan porsi dana murah di sekitar level 40 persen dari total penghimpunan dana pihak ketiga (DPK). Dengan demikian, beban biaya dana atau cost of fund yang ditanggung perseroan dapat ditekan.

Per Desember 2015 nilai total DPK yang dihimpun perseroan tercatat senilai Rp 85,48 triliun dengan porsi dana murah sebesar 41,67 persen. “Kami juga akan mencoba menarik nasabah yang hanya menikmati satu layanan, misalnya kredit, menjadi nasabah kami seutuhnya. Jadi, transaksinya juga di OCBC NISP,” ungkapnya.