Properti dengan harga premium di pusat kota Jakarta masih lebih murah ketimbang di negara lain.

Namun, lanjut dia, di sektor menengah ke bawah bisnis ini masih terbilang bagus. . Sedangkan properti mewah menurun, setelah adanya aturan pajak tambahan untuk properti mewah di atas Rp 10 miliar. “Pembeli pun bertransisi menjadi pembeli properti yang lebih murah harganya untuk menghindari pajak,” kata Trent dalam talkshow HSBC Wealth and Beyond, Personal Economy Forum 2016, di Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta, Selasa (12/4).
Trent memperkirakan, demand untuk property di perkotaan masih kuat tapi angka penyerapannya rendah. Sedangkan pengembang kemungkinan tidak akan menurunkan harga, hanya memberikan insentif.
- Milad ke-34, Bank Muamalat Teguhkan Komitmen Tumbuh Bersama dan Memberi Manfaat
- BCA Syariah Gelar Aksi Donor Darah dan Pemeriksaan Kesehatan Gratis
- Pembiayaan Solusi Emas Hijrah Bank Muamalat Melonjak 11 Kali Lipat
- Bank Mega Syariah Ekspansi Pembiayaan Emas, Dorong Akses Investasi Emas via Flexi Gold
Dari sisi harga properti, Trent menilai dari tahun ke tahun trennya terus naik. Terkait pembangunan infrastruktur, pengembang yang pintar akan mempertimbangkan hal ini. Sebagai contoh, kata Trent, pembangunan MRT (Mass Rapid Transit) di Jakarta. Proyek-proyek properti dengan harga premium akan mendekati area MRT dan demand juga diperkirakan akan meningkat untuk properti yang dekat dengan MRT.
Namun demikian, dia menegaskan, bahwa properti di Jakarta masih lebih murah, khususnya yang di tengah kota. ”Properti di Ibu Kota Jakarta masih lebih murah ketimbang Hanoi, Bangkok, Sydney, Shanghai, Beijing, Singapura, dan Hong Kong,” ungkapnya.
Menurutnya, investasi properti bisa menjadi aset masa depan untuk segera dibidik. Apalagi, properti di Jakarta lebih murah dibandingkan dengan negara-negara lain.

