Ki-ka: Agung Notowiguna (PKPU), Imam Rolyawan (Pre. SEAHUM), Prof. Hafidzi (My CARE Malaysia), dan Igor Vorontsov (Child Protection Officer UNHCR) dalam konferensi tentang Ronghiya di Bogor, Rabu (18/5). foto: Dompet Dhuafa.

SEAHUM Dorong Negara ASEAN Bantu Pengungsi Rohingya

[sc name="adsensepostbottom"]

Atas nama kemanusiaan, SEAHUM memperkuat kerja sama dengan negara-negara ASEAN untuk membantu pengungsi Rohingya.

Ki-ka: Agung Notowiguna (PKPU), Imam Rolyawan (Pre. SEAHUM), Prof. Hafidzi (My CARE Malaysia), dan Igor Vorontsov (Child Protection Officer UNHCR) dalam konferensi tentang Ronghiya di Bogor, Rabu (18/5). foto: Dompet Dhuafa.
Ki-ka: Agung Notowiguna (PKPU), Imam Rolyawan (Pre. SEAHUM), Prof. Hafidzi (My CARE Malaysia), dan Igor Vorontsov (Child Protection Officer UNHCR) dalam konferensi tentang Ronghiya di Bogor, Rabu (18/5). foto: Dompet Dhuafa.

Peristiwa pembantaian yang menimpa etnis Rohingya di Myanmar sejak tahun 2012 masih menyisakan beragam persoalan. Salah satunya adalah pengungsi Rohingya.

Dalam rilisnya yang diterima MySharing, Kamis(19/5),  jumlah pengungsi Rohingya di akhir 2014 hampir mencapai 500 ribu yang tersebar di beberapa negara, termasuk negara anggota ASEAN seperti Indonesia, Malaysia dan Thailand. Mereka mencari suaka, menyelamatkan diri dari pembantaian etnis mereka di Myanmar.

“Atas nama kemanusiaan, pemerintah dan berbagai lembaga kemanusiaan harus membantu pengungsi Rohingya. Kami mendorong negara anggota ASEAN bantu pengungsi Rohingya,” ujar Presiden Southeast Asia Humanitarian (SEAHUM), Imam Rulyawan dalam konferensi  tentang Rohingya yang digelar SEAHUM dan Dompet Dhuafa, di Bogor, Rabu (18/5) .

Imam menuturkan, SEAHUM sebagai jejaring lembaga kemanusiaan di negara-negara Asia Tenggara telah melakukan berbagai program untuk membantu para pengungsi Rohingya. Program bergulir pada aspek kesehatan, pendidikan, suplai makanan, sanitasi, penampungan sementara, dan advokasi.

Respon membantu pengungsi Rohingya tersebut seperti dilakukan lembaga kemanusiaan anggota SEAHUM asal Indonesia seperti Dompet Dhuafa, Rumah Zakat dan Pos Keadilan Peduli Umat (PKPU).

“Upaya kami selanjutnya yang lebih penting adalah advokasi dan menyelesaikan akar masalah terkait Rohingya ini. Kerja kolektif berbagai lembaga kemanusiaan di SEAHUM ini sebagai bentuk diplomasi kemanusiaan,” terang Imam.

Konferensi tentang Rohingya yang digelar 18-19 Mei 2016 di IPB Convention Center ini diharapkan dapat menjembatani para pemangku kepentingan yang telah berkontribusi dalam masalah Rohingya. Konferensi  juga diharapkan dapat memperkuat kerjasama yang lebih baik antara berbagai lembaga kemanusiaan atas isu Rohingya.

Dalam konferensi ini akan dibahas beberapa masalah yang berkaitan dengan isu-isu Rohingya, seperti memahami peluang dan tantangan untuk Rohingya setelah pemilihan umum di Myanmar. Juga dibahas peran negara-negara ASEAN untuk membantu pengungsi Rohingya dan cara membuat kerjasama yang baik dengan semua pemangku kepentingan di ASEAN untuk memecahkan masalah Rohingya.

“Pembiayaan kemanusiaan Islam akan menjadi topik yang menarik juga dalam konferensi ini. Mengingat bahwa dalam krisis kemanusiaan, pendanaan merupakan salah satu hal penting dan selalu dibutuhkan,” ungkap Imam yang juga Direktur Program Dompet Dhuafa.

Konferensi ini dihadiri oleh para pegiat kemanusiaan Dompet Dhuafa dari berbagai negara di Asia Tenggara dan akademisi di antaranya Bambang Suherman (Dompet Dhuafa), Hafidzi Mohd Noor (MyCare Malaysia) Heru Susetyo (PAHAM), Suryatno (Langsa Task Force, Aceh, Indonesia), dan Wai Wai Nu (Woman Peace Network, Arakan).