Pada 2020, utang luar negeri Indonesia diperkirakan tembus Rp 5.000 triliun.

Direktur Eksekutif Development and Islamic Studies (IDEAS) Yusuf Wibisono mengatakan, pemerintah dapat membuat kebijakan dengan menciptakan ruang fiskal yang luas, tanpa menggunakan sumber pembiayaan dari utang. “Negara ini sebenarnya mampu mendorong ‘fiscal space’ (ruang fiskal) tanpa utang,” kata Yusuf dalam paparannya pada a peluncuran “Indonesia Pro-Poor Budget Review 2016” di Gedung Dewan Pers, Jakarta, Senin (23/5).
Menurutnya, saat ini ruang fiskal yang ada di dalam anggaran negara masih bergantung kepada utang dari sejumlah lembaga keuangan multilateral, seperti Bank Dunia.
Ia menegaskan, untuk menerapkan ruang fiskal tanpa utang, maka pemerintah harus bisa mendorong kenaikan penerimaan perpajakan secara serius, serta mendorong efisiensi sektor publik.
- Milad ke-34, Bank Muamalat Teguhkan Komitmen Tumbuh Bersama dan Memberi Manfaat
- BCA Syariah Gelar Aksi Donor Darah dan Pemeriksaan Kesehatan Gratis
- Pembiayaan Solusi Emas Hijrah Bank Muamalat Melonjak 11 Kali Lipat
- Bank Mega Syariah Ekspansi Pembiayaan Emas, Dorong Akses Investasi Emas via Flexi Gold
“Tanpa ada reformasi signifikan, maka tingkat utang diperkirakan akan selalu meningkat. Bahkan pada 2020 diperkirakan utang bisa menembus Rp 5.000 triliun,” ungkapnya.
Sebagaimana diberitakan, Bank Indonesia mengumumkan, posisi utang luar negeri Indonesia hingga triwulan I 2016 mencapai 316 miliar dolar AS atau naik 5,7 persen, dibandingkan periode sama tahun 2015.
[bctt tweet=”Pada 2020 diperkirakan utang Indonesia menembus Rp 5.000 T” username=”my_sharing”]

